Ini cerita semalam yg gagal posting tea gegara saya so' so' an nulis langsung di MP tidak via notepad dan gak simpan di draft dan ketika tinggal klik post internet error, betelah saya.. ditinggal tidur akhirnya.
Jadi beginilah ceritanya,
Sekitar beberapa bulan lalu ( mungkin sudah setahunan) wilayah beberapa bagian dari lingkungan RW saya sudah menggunakan paving blok untuk jalan masuk ukuran 3-5m. Termasuk sebelah gang yang masih masuk RT saya.
Gang di rumah saya sebelah atas baru dipaving blok sebelum lebaran Iedul Fitri tahun ini kalau gak salah. Tapi itu juga cuma sepotong, rasanya cuma sekitar 100 meteran saja.
Beberapa minggu lalu, ada isu berhembus katanya setelah kemenangan Airin menjadi Walikota Tangsel dan salah satu pendukungnya adalah wilayah saya, maka proyek pe-maving-an ( halaah.. bahasa apa pula ini ) jalan depan rumah saya akan dilanjutnya. Terbukti kemudian dua tumpuk pasir dan tumpukan paving blok diturunkan dari truk dan di simpan tepat di seberang rumah saya.
Pekerjaanpun dilanjutkan, mulai dari jalan atas terus sampai ke bawah, rumah saya berada di posisi paling bawah dan ke dua dari gapura ujung jalan.
Pekerjaan ini disupervisi oleh orang kepercayaan Pak RT dan dikerjakan oleh beberapa warga dengan bayaran sesuai dengan kesepakatan dari pihak pemborong Pemda Tangsel. Pengerjaannya dimulai sejak pagi sampai jam 10 malam dengan target 4 hari selesai semua sampai ujung gapura.
Dua hari lalu, saya lihat pekerjaan sudah sampai di sebelah rumah saya, terlihat kesibukan pemilik rumah sebelah menyiapkan seteko kopi dan beberapa gelas juga makanan ringan untuk yang bekerja. Aliran listrik untuk penerangan juga diambil dari rumah sebelah.
Suami (dan saya) yang melihat-lihat proses pekerjaan itu bilang ke saya, "besok giliran kamu yang nyiapin kopi dan makanan" . Ok bosss.
Pagi harinya saya sudah pesan si Mbak untuk beli pisang tanduk untuk di goreng nanti malam, dan menyediakan minuman siang nanti untuk pekerja yang mulai bekerja di depan rumah kami.
Tapi malam harinya, sepulang saya kerja, saya lihat proses pekerjaan di sebelah rumah sudah selesai, rumah tetangga sebelah juga sudah ditambahkan tanggul penahan banjir karena sekarang jalanan lebih tinggi dari rumah.

Tunggu punya tunggu... setelah Isya koq belum ada yang muncul untuk melanjutkan pekerjaan, sampai jam 10 belum ada juga, ya sudah, untung pisang tanduk belum di goreng, kopi juga belum sempat di buat. Akhirnya kami tinggal tidur.
Pagi hari sambil melihat-lihat kondisi jalanan, datanglah bapak penanggung jawab proyek. Saya tanya ke beliau
"kenapa semalam tidak dilanjutkan pekerjaannya pak ?
"sudah selesai bu dan stop sampai di sini."
"Apaaaa ??? ( pake gaya kaget beneran). Kenapa stop sampai di sini ? "
"bahan-bahannya sudah habis bu"
"Gak minta lagi ?"
"Wah ya mesti bikin proposal lagi dan nunggu anggaran turun"
(Duuh.. tau sendiri kan kalo urusan anggaran di Pemda tuh gak bakalan sebentar prosesnya)
" Lha trus iki piye pak, jadi jelek gini separo-separo, rumah saya nanti bakal jadi penampungan air kalo gini mah"
"Yo wis.. ibu bantu aja beli paving biar nanti kita beresin sisan"
"Berapa saya mesti bantu ? " ( gaya sok punya duit)
"ya di itunga ja bu, gak susah sampai tembok habis, pas di depan gerbang ini aja, kira2 20 meter lah, harga paving 65rb, jadi sekitar 1.2 jt lah bu "
"eulueeeh... 1.2 juta, saya tanggung sendiri ?, lha itu rumah depan gak dimintain ?"
"Kan kodisinya beda bu, wong tuo kabeh, pensiunan hehehe.."
"oh,, yo wis pak, tak pikir2 dulu"
Kemudian saya dan si babeh pun berdiskusi, maleslah saya ngeluarin uang segitu untuk jalanan umum dan kenapa juga cuma saya yg dimintain uang, yang diatas-atas sana bahkan tetangga sebelah juga dimintai bantuan uang gak mau ngasih.
Saya kalau cuma bantu semen 1-2 sak atau pasir satu kijang masih ok lah, tapi kalau 1.2 juta nanti dulu.
Si babe bilang
yo wis..gak papalah bu, dari pada nanti rumah kita kebanjiran, hari ini kan si Rully janji mau bayar utang, ya itung2 amal ajalah buat yang pakai jalan itu.
Saya jawab dengan sengit ( saya selalu sengit kalo dengar nama Rully si pengutang di sebut )
" Ya liat aja, kalo si rully bayar hari ini, sampe gapura sana di paving gw yang bayar " ( bener2 gaya ni ibu seno ).
(Nyatanya sampai semalam saya tagih, seperti biasa jawabannya tetep
"minggu depan.. " (ya minggu depan taon monyet lu !! " )
Kemudian semalam,kita kembali menemui bapak itu, dan bilang keberatan kalau mesti mbayar meski harga sudah diturunkan menjadi 1 juta.
Jadi.. biarlah sabtu ini saya cuma akan membuat tanggul di depan gerbang rumah saya saja, tak dipikirkan lagi soal estetika yang penting rumah saya selamat dari terjangan genangan air yang sebentar lagi muncul di musim penghujan ini. Sambil senyum si babe bilang ngeledek saya lagi,
"Ini nih gara2 kita gak pernah ikut pilkada dan pilgub hehehe.." Saya cuma bisa memandang dengan miris jeleknya tampak depan rumah saya yang makin berantakan dengan sisa material pasir yang bikin kotor jalan.
*perasaan semalem nulis gak sepanjang ini deh, maaf kalo kepanjangan *