Showing posts with label transportasi. Show all posts
Showing posts with label transportasi. Show all posts

Tuesday, December 13, 2011

Tak Ada Lagi Tegur Sapa

Sudah hampir  tiga mingguan ini saya jadi penumpang setia angkot 09 jurusan Green Garden - Kreo, saya naik dari depan Mercu Buana sampai Kreo, karena saya nebeng motor teman saya sampai Mercu Buana.
Biasanya saya naik di Mercu sekitar jam 18.30-an.  Dan beberapa kali naik angkot saya beberapa kali juga bertemu dengan wajah-wajah yang kemarin saya temui di angkot yang sama. Bisa jadi karena mereka juga rutin sebagai penumpang setia 09.

Sambil menikmati perjalanan (yang selalu macet di perempatan Joglo) saya perhatikan penumpang-penumpang  mereka sepertinya sudah biasa menikmati kemacetan di angkot, menikmati sambil asik mendengarkan music dari Hp atau pemutar musik yang ada di dalam tasnya, terlihat kabel earphone menjuntai di telinga kiri kanannya. Sementara yang lain menikmati macet sambil memainkan keypad BB atau HPnya.  Asik sekali nampaknya dan tak peduli dengan macet dan gerah melanda. Sementara saya sudah blingsatan kegerahan dan kesel nunggu macetnya, biasa selap selip bersama si maung rupanya membuat saya tak tahan macet di dalam angkot.

Pengen juga rasanya seperti mereka yang menikmati lagu dr HP atau asik memainkan HP dan BB di angkot, tapi saya koq parno ya ngeluarin HP di angkot, padahal HP saya juga gak bagus-bagus amat, tak perlu kawatir kalau ada orang nakal tergiur HP saya, meskipun kalau hilang ya nyesek juga hehehe..
Belum lagi susahnya tangan saya bergerak lincah sentah sentuh layar HP dengans atu tangan, pasti tulisannya berantakan, beginilah nasib punya jempol gede tapi sok-sok-an pengen pake HP layar sentuh. Mau pakai 2 tangan seperti biasa, tangan kiri pegang HP dan tangan kanan sentuh layar untuk nulis ya pasti sempit, kasian penumpang di kiri kanan saya yang sudah dipaksa duduk 4-6 apalagi body saya ukuran satu setengah penumpang.. :-)

Bertemu dengan beberapa wajah yang familiar di angkot namun tanpa tegur sapa karena mereka asik sendiri dengan HP nya, membuat saya teringat masa-masa saya pasing jadi penumpang setia patas 89, Andalan atau AC 59 jurusan Blok M - Tj Priuk.
Di bus itu pada jam yang sama biasanya akan bertemu penumpang yang wajahnya sudah familiar. Karena seringnya bertemu jika kebetulan satu tempat duduk akhirnya kita jadi ngobrol, saling kenalan, minimal tanya turun di mana, kemudian berlanjut kantornya di mana, rumahnya di mana dan seterusnya, sepanjang perjalanan di isi dengan ngobrol ringan, kadang tukeran koran atau tabloid yang dibawa.
Saya jadi punya kenalan Mbak Endang yang suaminya kerja di gramedia, Mbak Tanti yang kerja di Ice Cream Diamond ancol, dan beberapa orang lagi yang sekarang saya lupa karena sudah tak berhubungan lagi. 

Tadi saya juga bawa Della ke dokter, di dokterpun begitu, orang tua, bahkan mungkin pasien menunggu antrian dokter sambil memainkan BBnya, tak ada lagi obrolan saling sapa, sakit apa anaknya dan seterusnya seperti dulu waktu saya bawa Seno atau Della ke dokter waktu mereka mash balita. Majalah usang di ruang tunggu dokter juga sudah tak laku lagi.

Jaman memang sudah berubah, teknlogi membuat kita tak ramah lagi, tak ada lagi tegur sapa ramah untuk orang yang terdekat dengan posisi kita di dunia nyata. Mayoritas asik beramah tamah dengan orang yang jauh dan tak tampak mata.








Sunday, August 1, 2010

Bogor-Sukabumi bikin stress

Kalau bukan karena ada perayaan, sejak Eyang Seno sudah meninggal, males rasanya saya ke Sukabumi. Selain karena rumah eyang seno sudah tidak ada lagi juga, juga karena jalan menuju dan dari Sukabumi sudah sangat tidak nyaman.

Dulu, kita bermacet2 di jalan masih bisa bilang ini macet yang wajar. Jakarta-Sukabumi yang mestinya bisa 3 jam telat 1/2 jam atau 1 jam mash di anggap wajar.
Apalagi kemudian kita akan tiba di Sukabumi dengan di sambut Eyangyang sudah menunggu anak cucunya dengan limpahan makanan kesukaan masing2.
Sekarang rasanya jauh berbeda, pergi ke Sukabumi sudak tidak asik lagi, anak2 juga saya terutama sepertinya terbebani dengan perjalanan yg bikin bete ini.

Hari Sabtu kemarin saya ke Sukabumi untuk peringatan 1 tahun wafatnya eyang Seno. Dari arah Jakarta, mau ke luar ciawi dari gerbang tol ke luar bisa memakan waktu 1 jam.
Sempat ada beberapa pengojek yang menawarkan jasa memandu mobil melewati jalan pintas arah puncak dan keluar di Ratna ( caringin) tapi dengan meminta tarif Rp.50.000.
Bukan harga memandunya yang bikin saya kesal, tp cara pemanfaatan mereka terhadap orang2 yang sedang kena macet yg saya kesal.
Mereka pikir orang2 yang kena macet itu orang berduit yang mau menghabiskan uangnya dengan berlibur di puncak atau daerah wisata di sana semua kali ya.
Jadilah itu kesempatan buat mereka.
Herannya, tidak ada petugas baik dari pemda maupun PJR yang melarang mereka. Padahal jalan pintas itupun jelas2 jalan yang dibiayain pemerintah bukan jalan nenek moyang mereka.

Sebetulnya ada jalan pintas dr Bogor lewat batu tulis, warso farm keluar sebelum cicurug untuk menghindari macetnya caringin.
Sayangnya ketika berangkat itu saya ragu2 ambil jalan situ. terpaksa bermacet2 ria sampai caringin bahkan cimande.

Lancar sedikit, kemacetan kembali di arah menuju cicurug, ambil lagi jalan untuk menghindari cicurug yaitu lewat jalan kampung sebelah kiri dekat taman angsa belok kiri, terus ikutin jalan yang naik turun, dana akan keluar dekat koramil kecamatan cicurug.

Tapi jangan senang dulu, masih ada 2 titik macet lagi menuju Sukabumi. yaitu Cibadak dan CIsaat. lagi2 ini juga pasar dan  terminal.
Untuk menghindari macetnya Cibadak, kami ambil jalan anletrnatif lewat nagrak, karang tengah. jauh sedikit gak apa2, yg penting lancar dan pemandangannya juga lumayan berasa kampung.

Selanjutnya, sebetulnya ada juga jalan pintas menghindari macetnya cisaat, tapi gak kita ambil jalur itu, selain gak terlalu hapal juga , masih berharap macetnya tidak seberapa.
Ternyata memang beginilah nasib jalan di siang hari di hari sabtu, pasar cisaat juga maceeeet..
Kendaraan sudah bisa agak ngebut sedikit ketika sudah sampai di daerah rambay cisaat.
Jadi kalau terus mengikuti jalur normal jalan Bogor-Sukabumi, mungkin bisa menghabiskan waktu lebih dari 6 jam berangkat di pagi hari.
Selain kena macet di titik2 macet sepanjang jalan, juga karena bertepatan dengan jam keluarnya karyawan beberapa pabrik yang semakin menjamur di sepanjang jalur Bogor-Sukabumi.
Serba salah memang, pembangunan pabrik di Sukabumi yang salah satu tujuannya supaya mengurangi jumlah penduduk Sukabumi yang menjadi TKI punya efek lain yang juga menjadi masalah.

Sebagai orang yang minimal 1x setahun selalu ke Sukabumi, saya sangat mendukung rencana PT Bakrieland Development Tbk yang menggandeng BUMD Jawa Barat, PT Jasa Sarana untuk membangun jalan tol Bogor -Sukabumi.
salah satu dukungan saya dengan ikut gerakan dukung pembangunan tol Bogor-Sukabumi di Facebook.

Tapi sayangnya, rencana tahun 2010 ini sudah mulai pembangunan jalan tol itu, ternyata sampai sekarangpun belum terlihat buktinya karena jadwalnya molor , jadi jadwal thn 2011 tol sudah bisa di pergunakan, rasanya gak mungkin terjadi.  Entah sampai kapan......
Saya bilang ke Bapa Seno, saya mau ke Sukabumi lagi kalau jalan tol sudah jadi..

Tapi tiba2 Bapa Seno mengingatkan saya, lho.. minggu besok kamu bukannya rafting sama temen2 kantor, kan Sukabumi juga..
Haduuulll... bisa di cancel gak ya.. cape dan stress 2 hari kemaren pulang pergi sukabumi-Jakarta rasanya belum hilang..

Thursday, November 13, 2008

Kode Angkutan Umum di Jakarta


Dulu waktu pertama kali gue masuk ke Jakarta dan suka pergi ke
sana-sini dengan naik bis kota atau metro mini, gue gak pernah takut
nyasar karena kemanapun selalu berpatokan terminal.
Jadi kalo nyasar di bawa bis, ikutin aja same abisnya bis di terminal
mana. dari situ baru deh tanya2 nomor bis yang menuju terminal
terdekat tujuan.
karena seringnya naik bis dan supaya gak nyasar, gue coba kenali dan
hapalkan kode-kode bis dan terminalnya.
Nah supaya teman2 yang masih naik bus gak nyasar, gue coba bagi-bagi
deh catatan kode bisnya.
Oh ya kode bis yang gue hapal ini kebanyakan sih baru PPD
,Mayasari,Metromini atau Kopaja. Kalau Bis Bianglala, Andalan, Steady
Save gak terlalu hapal.

Nomor bus 1x dan 1xx ( 10, 116, 107 dst ) - Berangkat dari terminal Blok M
Nomor 2x dan 2xx ( 20, 213 ,26 dst ) - Berangkat dari terminal Grogol
/ Kalideres
Nomor 3x dan 3xx ( 34, 300,313 dst ) - Berangkat dari terminal Rawamangun
Nomor 4x dan 4xx ( 45, 46,43 dst ) - Berangkat dari terminal Kampung Rambutan.
Nomor 5x dan 5xx ( 57, 52, 504 dst ) - Berangkat dari terminal Pulo Gadung
Nomor 6x dan 6xx ( 60, 602,65 dst ) - Berangkat dari terminal Tanjung Priok
Nomor 7x dan 7xx ( 70, 72 dst ) - Berangkat dari terminal Kota
Nomor 8x dan 8xx ( ini gak tahu contohnya ) - Berangkat dari terminal Senen
Nomor 9x dan 9xx (mis. 936, 921, 920 ) - Berangkat dari terminal
lainnya (Manggarai, Kampung Melayu, Depok, Tanah Abang, dll).

Yang gak hapal dan agak rancu kode patas nih. Apalagi kode patas AC
mayasari burem deh, gue ingetnya Cuma AC05 Blok M – Bekasi. AC 49 (
Blok M – Priuk ). Padahal kode 4 kan punya kampong rambutan.

Untuk Metro Mini atau Kopaja dan angkot dibedakan dengan tulisan huruf
di depan nomor, misalnya
T = Timur , B = Barat , U = Utara, P = Pusat, S = Selatan.
Contohnya :
- S75, S77, S71 , S69 ( yg ini hapal banget ) , metro mini dan kopaja
ini beroperasi di wilayah Jakarta Selatan
- T48,T502, T59 ini beroperasi beroperasi di Jakarta Timur
- Uxx ( belom pernah naik area utara meskipun 10 tahun kerja di utara )
- P11, P18 ini beroperasi di Jakarta Pusat
- B80, B85 ini beroperasi di Jakarta Barat
Sayangnya gue belum sempat menghapal kode angkot untuk wilayah
Tangerang nih, yang gue hapal cuma C01 ( Cliedug – Keb Lama ) dan D01
( Ciputat – Keb Lama ), R11 (Cikokol – Perum Tng ).
Tapi tenanglah biarpun gak hapal kode angkot di Tangerang, kebangetan
kalau gue sampe nyasar di Tangerang ..

Saturday, February 2, 2008

Dan Banjirpun ku terjang

Jakarta jumat  di awal februari bener2 lumpuh gara2 langit Jakarta terus menerus ngangis sejak pagi. Sejak berangkat kantor hujan deras sudah menemani gue dan Bapa Seno sejak dari rumah. Apesnya lagi si maung gahar alias Tiger kesayangan Bapa Seno tiba-tiba aja ngambek (ngikutin yang punya juga lagi ngambek hehe ). Setiap kali lampu merah dan brenti , setiap kali itu juga si maung gak mau di stater, bayangin aja sepanjang jalan panjang joglo – Daan Mogot berapa jumlah lampu merahnya. Jadi aja sampe kantor jam 9 . itupun Bapa Seno terpaksa gue tinggal di depan BCA Daan Mogot karena si maung masih juga ngadat dan gue terobos banjir Daan Mogot yang sudah mulai se betis.

 

Jam 1 Siang karyawan sudah boleh pulang,tapi gimana mo pulang , depan kantor sudah se dengkul lebih dan gak ada kendaraan umum yang lewat, Kantor nyediain truk untuk yang mau ke grogol dan gak ada yang ke arah cengkareng. Berhubung kawatir kondisi rumah dan anak2, gue nekat deh nembus banjir jalan sampe pesing. Sampe pesing angkot masih juga susah di cari, cape nunggu , akhirnya nekat deh nyetop mobil box pengangkut sosis dan tahu sutera yang tujuannya ke carefour Puri, enak juga lho naik mobil tinggi bisa nembus banjir. Dari Puri angkot jurusan Kreo atau ciledug masih juga gak ada, jaid naik angkot apa aja sampe srengseng. Dari Srengseng di lanjutkan naik taxi yang lagi2 gak mau sampe tujuan, Cuma sampe perempatan joglo aja. Karena katanya macet total di jalan TPU joglo. Ojekpun gue ajak lewat TPU Joglo gak mau, keukeuh tukang ojek ngajak lewat BNI Ulujami nanti muter di cipulir katanya gak banjir , padahal gue tau banget di situ sumber banjirnya. Gak papa deh terpaksa dari pada gak sampe2. Dan.. bener aja, sampe depan BNI dan muter di cipulir, tetep aja kehadang banjir sungai pesanggrahan, dan bener aja gue di kadalin tukang ojek, jelas dia gak mau macet2an dan gak mau melintasi banjir dong… jadi cukup sampai di sini aja ya neng.. selanjutnya terserah anda.. dasar !!

Yah akhirnya sambil mikir gimana caranya nyebrangin banjir yang sudah sepinggang tukang gerobak, gue nikmatin aja suasan banjir, sambil foto2.. dan gue  jadi inget nostalgia waktu masih gadis dan baru pertama kerja masih naik 69 dan sempet kehadang banjir, gue rela dan gak malu tuh naik gerobak.. asik-asik aja malah, akhirnya saat itu juga gue putuskan  naik gerobak aja deh, dari pada naik delman kasian kudanya kedinginan.

Sampe ujung banjir, tinggal 1x lagi gue mesti naik angkot atau ojek, gue coba telpon Bapa Seno,gak di angkat, mungkin dia juga lagi berjuang menembus banjir sambil ngerayu si maung supaya gak ngambek. Dan angkot COI masih juga gak ada, jadi tetep ojek I Love You.. sampe rumah.

 

Gue pikir tadi etape banjir terakhir yang mesti gue tembus, ternyata belum, di tengah-tengah jalan wijaya kusuma, lagi2 gue terhadang banjir, sedengkul juga akibat limpahan anak sungai pesanggrahan, di bates Jakarta-Tangerang, sekitar 200m lagi dari rumah. Waduh jadi kebayang gimana tadi Seno dan Della pulang dari sekolah ya.. duh.. kasian. Sambil jalan di tengah banjir, gue jadi mikir, salah nih beli rumah di sini, meskipun  rumah gak banjir tetep aja akses jalannya banjir mah percuma. Di tengah jalan banjir juag sempet2nya bertransaksi beli pepes peda di langganan yg kebetulan ketemu di situ hehe..tetep wee. Gak mau kehilangan ka sedep na neng Icho pepes peda tea..

Di ujung banjir.. astaga.!!!!. gue lihat Seno , Della dan Bapa Seno lagi asik main air banjir2an ..ya ampuuun.. iseng banget si Bapa pantes aja gue telp gak diangkat2..teganya dikau gak mikirin si Ibu yang  susah2 berjuang menembus banjir… hiks.. jadi sedih, susah banget mau cari uang di Jakarta..

 

Tuesday, November 13, 2007

Tips Nebeng.com

Berhubung Bapa Seno lagi gak bisa anter dan jemput, jadi setiap hari untuk berangkat gue masih bisa mengandalkan tukang ojek yang mangkal di depan BL untuk nganter gue sampe Ratu plaza, trus di sambung patas AC 49, di sambung ojek lagi ke kantor.

Nah untuk pulang sejak jam 2 sudah harus cari info beberapa teman yang bsia di tebengin, kira2 yang paling pas nebeng sama siapa..   krn area kantor gue meskipun masih termasuk di bilangan Jakarta, tapi sudah di ujung Jakarta dan  dari  kantor menuju jalan rayanya juga gak bisa di bilang deket ( untuk ukuran orang males jalan spt gue hehe) trus nyambung bis, bisa nya lamaaa dan berdiri pula.. makanya nebeng teman adalah alternative yang paling sering di pake oleh gue juga beberapa teman di sini.

Untuk nebeng juga perlu ketelitian supaya tepat, cepat dan selamat sampai tujuan. Cek jam berapa tebengan akan pulang,  cek rute yang di ambil oleh para memberi tebengan, pilih rute yang paling cepet sampe rumah, pilih kenyamanan kendaraannya ( kalo nebeng yg pake mobil ac nya harus nyala , mobilnya gak sering mogok, nyetel lagunya bagus2.. atau kalo nebeng motor harus dipilih juga, pertama cara bawa motornya ngebut or tidak, trus jaketnya bau atau tidak, bensinnya masih cukups sampe tujuan gak.. dsb deh).

Trus.. satu hal lagi nih, supaya tidak terjadi hal hal yang di inginkan atau menghindari gossip , hindari tebengan yang itu  itu aja.. siapa tahu yang di tebengin juga bosen dan ngedumel ni orang nebeng melulu atau bahkan sebaliknya tebengan jadi akan merasa kangen kalo gak di tebengi. Seperti misalnya Senin gue nebeng Pak W orang TSO, pake Kijang, ruote lewat harmoni-tomang.. ampuuun macet banget, dari kantor jam 5 sampe rumah jam 8.15, gak gue ulang lagi deh nebeng Pak W… kelamaan tapi enak bisa sampe depan rumah.

Selasa nebeng si Y, naik motor.. dari ktr jam 7 sampe tmn alfa jam 8.. ( ini tebengan paling tepat)

Hari ini …si Y pulang lebih malem.. jadi  mulai cari yg lain deh..

Tuesday, September 25, 2007

Ojek I Love You

Kendaraan rakyat yang paling gue suka sejak masih kuliah sampe saat ini adalah motor, tepatnya ojek. Enak banget naek ojek yang utamanya karena cepet bisa nyelip2 dan gak gerah,enak lainnya terhindar dari copet. Waktu jaman kuliah dan belum nge-kost ojek relative jarang di temuin, tapi kalo pas telat dan jadwal ujian, biasanya dari ciledug ke kampus Budi Luhur gue naik ojek ( cape nunggu 69 atau C01 yang ngetem2 ). Karena masih kuliah dari pada ngojek terus ( krn telat terus ) akhirnya gue pilih kost deket kampus. Trus pas mulai kerja di daerah kemang (masih ngekost di seputaran Budi Luhur) gue juga lebih seneng naik ojek sampe blok M, krn dulu belum ada jembatan layang Keb. Lama jadi macetnya di pasar Cipulir dan di pasar Keb. Lama minta ampun. Sampe sekarang kerja di daerah sunter, Ojek tetep jadi kendaraan tercinta gue dikala gak dianter atau gak dijemput Bapa Seno atau kemana aja seputaran Jak Bar atau Jak Sel  kalo pas pergi sendiri. Gue sampe hapal tarif2 ojek ke area mana gue tuju hehe.. untuk route :

- Budi Luhur-Keb Lama , 7000-8000.

- Budi Luhur - ke Blok M 10.000

- Budi Luhur – Ratu Plaza15.000

- Budi Luhur – Slipi  20.000

- Budi Luhur – Sunter 40.000

- Budi Luhur - lebak Bulus atau Budi Luhur – Gambir 25.000

- Tomang – Sunter 20.000

- Harmoni – Sunter 15.000

- Sunter - Cempaka Mas 10.000.

Pengalaman naik ojek yang paling jauh dari Cicurug-Ciawi, ini ngejar waktu saat dapet kabar Nurcholis meninggal. Kalo pengalaman naik ojek paling menegangkan waktu ada meeting company di daerah botol kecap puncak, dan gue datang menyusul karena paginya ada pernikahan sepupu. Dari ciawi macet banget , jadi naik ojek lewatin tapos, trus sampe botol kecap. Tegangnya karena sudah malam, jauh dan daerahnya gue belum kenal sama sekali, trus jalannya belok belok pula. Untungnya tukang ojeknya orang sunda hehe.. jadi ngobrol aja sepanjang jalan pake bahasa sunda. Ada juga pengalaman sok tahu gue ketika naik ojek dari pintu tol jati bening ke komsen mau ke rumah mertuanya sohib yang baru lahiran anak, yang namanya komsen aja gue gak tahu dimana, waktu si abang ojek bilang tarifnya 10.000, dengan sok tahu gue tawar ojeknya 7.000 dan di kasih… pas di jalan ternyata jauh juga hehe… kasian ah.. tetep gue bayar 10.000 juga sih .

Macet dimana-mana..

Sudah hampir 2 mingguan ini macetnya gak kira2, dimana2 sepanjang perjalanan menuju kantor maupun pulang kantor menuju rumah. Kalo tahun2 sebelumnya gue berpatokan hari nyantai di jalan raya dalam setahun yang bisa gua nikmatin itu ada 2 periode yaitu libur sekolah dan bulan puasa atau awal2 lebaran, tahun ini meleset.. malah di bulan puasa ini kemacetan bertambah.  kalo di daerah ciledug raya – kebayoran lama ini emang sudah jalur kutukan, jadi gak ada matinya macet makanya gue selalu menghindar jalur itu, tapi diluar jalur itu ternyata macetnya juga nyaris sama dengan jalur ciledug raya, jalur joglo yang semula jadi jalur alternative eh sekarang rada tersendat, trus masuk ke sudirman atau pilih lewat slipi tanah abang sama aja macet. Lepas dari harmoni ternyata belum langsung lancer sampe sunter. Project underpass angkasa masih belum selesai jadi masih perlu kesabaran lagi. Trus pulangnya… sudah pasti menghindar lewat sudirman – thamrin, gue pilih lewat tanah abang.. rada lumayaan kalo pulangnya abis maghrib, tapi kalo sebelum magrib wah.. sami mawon. Trus kalo biasanya dari arah batusari lewat arteri jalan panjang itu enak banget bisa ngebut, sejak ada pembangunan jalur busway koridor VIII Lebak Bulus-Harmoni,mulai dari lampu merah batusari sudah tersendat, jadi terpaksalah ambil jalur binus baru, rawa belong.. meskipun macet tapi masih bisa jalan. Yang rada sengsara kalo pas gak dianter atau gak dijemput Bapa Seno hiks*.. seperti hari senin kemarin. Kalo dari rumah ke bus tujuan priuk gue pasti pake feeder tercinta alias ojek I love you.. liat2 situasi kalo ciledug macet banget gue pilih naik ojek langusng ke slipi , tapi kalo ojek masih bisa nyelip2 lewat ciledug raya gue naik ojek sampe ratu plaza setelah itu sambung bis ke priuk. Dan lagi2 jalan by pass yos sudarso juga lagi kena project busway koridor X, jadilah macetnya makin jadi. Konon pembangunan jalur busway dimana2 sudah bikin bete warga Jakarta, kepala dishub DKI sih dengan enak bisa ngomong warga Jakarta di uji kesabarannya di bulan ramadhan ini dengan kemacetan yang diakibatkan jalur busway.. weeee.. enak bener. Sabar sih sabar.. Cuma ngapain sabar kalo penyebabnya perbuatan yang planningnya nyiksa. Gue masih bingung .. emang perlu ya busway sampe ke pedalaman kota ?  kenapa gak di jalur2 protokol Jakarta aja sih ?  Kata Pak Gubernur baru warga Jakarta mesti maklum dan paham kalo pemerintah lebih mendahulukan kepentingan public. Tapi kata temen gue  penderitaan warga Jakarta di bulan puasa gak seberapa disbanding korban gempa Bengkulu dan Padang .. lha ?? ini mah musibah .. masa dibandingin sama macet ??

Thursday, July 26, 2007

Taxi BB juga gak aman ?

Yuli tadi pagi forward e-mail  mengenai cerita salah seorang karyawati di kuningan Jak Sel yang nyaris di perkosa sama sopir taxi BB. Serem juga ya, susah sekarang milih taxi yang bisa dipercaya. Salah seorang temen gue, Anjar pernah ngerating taxi2 tarip lama yang lumayan bagus, tapi belum ada yang ngerating tarif baru yang bagus, mungkin sudah di di dominasi BB kali ya..

Kalo gue pribadi sih kalo untuk urusan keluarga or urusan pribadi lebih sering pake taxi tarif lama, bisa express atau putra, nah kalo udah urusan kantor pulang malem, pasti pake BB karena pake voucher kantor.

Tapi mbaca cerita percobaan pemerkosaan ( di siang bolong pula ) di imel tadi, kalo itu bener, mo pilih yang mana lagi dong taxi yang aman ?

Sekedar tips kalo naik taxi antara lain misalnya biasakan catat nomor body dan nama supir, sms ke temen or ke orang terdekat nomor body dan nama supir.. trus apalagi ya kira2

Kayanya perisai diri yang paling penting emang Doa ya, selama kita mau keluar rumah selalu berdoa Insya Allah pasti kita dilindungi deh..