Showing posts with label tangerang. Show all posts
Showing posts with label tangerang. Show all posts

Thursday, July 19, 2012

Keramas Bareng di Cisadane

Menyambut bulan suci Ramadhan, kalau dalam adat Minang punya tradisi Balimau, yaitu  tradisi turun temurun  dalam menyambut puasa dengan membersihkan diri ,membasuh seluruh tubuhnya menggunakan air bersih yang dicampur dengan jeruk atau limau, maka di Tangerang kota tempat saya tinggal semasa kecil hingga remaja juga punya tradisi menyambut bulan Ramdhan dengan cara keramas bareng di kali Cisadane.




















Dulu, waktu saya masih kecil saya bersama sepupu saya yang rumahnya di daerah Babakan Sukasari dan tak jauh dari tepi Cisadene ikut  berbondong-bondong mandi di tepi sungai Cisadane, laki-laki dan perempuan ditempat yang terpisah meskipun mandinya dan keramas di tempat terbuka namun tetap menggunakan baju atau penutup badan. Keramasnya dulu itu tidak menggunakan shampo, tapi menggunakan merang ( bekas padi ) yang dibakar, air merangnya digunakan untuk keramas. Sayangnya kegiatan itu kemudian tak pernah lagi dilakukan oleh warga setempat hingga saya tak tinggal lagi di Tangerang Kota di tahun 90-an.

Tapi hari ini saya senang sekali ketika teman saya mengirimkan foto-foto kegiatan keramas bareng di tepi sungai Cisadane yang sudah mulai digelar lagi sejak tahun 2004. Kegiatan keramas bareng warga Babakan Sukasari Tangerang yang di buka oleh Lurah Sukasari . Puluhan orang bergantian berdatangan, ada yang membawa gayung untuk menyiramkan air ke kepala dan badan mereka, ada juga yang langsung nyebur ke sungai. Beberapa perahu karet petugas terlihat bersiaga di  tengan sungai ikut mengamankan situasi di sekitar Sungai Cisadane agar tidak menelan korban tenggelam.

Kegiatan ini juga cukup menarik warga yang melintas bahkan beberapa media juga ikut meliput kegiatan ini. Teman saya yang sudah beberapa kali ikut melihat (saja) kegiatan ini bercerita pada saya acara ini cukup ramai, bahkan ada artis juga yang ikut meramaikan acara ini. Beberapa tahun lalu Syahrul Gunawan pernah datang di acara ini, maka sore tadi yang datang adalah 2 orang anggota Trio Macan, tapi sayangnya mereka gak ikutan keramas hehehe..
 

Bagi saya mempertahankan tradisi seperti ini selama pelaksanaannya masih terpantau oleh masyarakat dan aparat berwenang agak tidak disalah gunakan menjadi ajang hura-hura belaka namun menjadi ajang untuk bersama-sama mensucikan dan membersihkan diri sambil mempertahankan tradisi rasanya sih oke-oke aja lah, semoga sih tak ada kontroversi, gimana kita menyikapinya aja lah.



Note : Foto2 ini dikirim oleh Mas Eko P. Adik kelas saya di SMP dan SMA

Friday, August 19, 2011

Kak Herman Pramuka Sejati dari Tangerang

Buat Orang-orang sepantaran saya bahkan lebih tua dan pemuda yang sekarang sekolah dan tinggal atau bersekolah di wilayah Tangerang Kota,  sosok ini mungkin sudah tak asing lagi.


Namanya Herman, saya tak tahu nama lengkapnya siapa, sejak saya masih SMA saya sudah sering melihat sosok Herman  terlihat hadir di setiap acara yang berhubungan dengan kepramukaan atau upacara besar lengkap dengan pakaian seragam pramuka kebanggaannya, itu sebabnya Herman lebih terkenal dengan julukan Herman Pramuka.

Herman tidak gila atau terganggu pikirannya, Herman adalah sosok manusia biasa dengan sedikit kekurangan pada dirinya.
Dulu waktu saya SMA dan masih suka bertemu dengannya di setiap acara kepramukaan yang kebetulan juga saya hadiri. Herman datang dengan sepeda kesayangannya, ngobrol dengan siapa saja, tak jarang herman di olok-olok karena kekurangannya, ditanggap untuk sekedar bernyanyi dengan suara yang pelo-pelo. Lagu kesukaannya yang sering di nyanyikannya adalah lagu AYAH
Dimana akan kucari, aku menangis seorang diri
hatiku slalu ingin bertemu, untukmu aku bernyanyi
untuk ayah tercinta aku ingin bertemu walau hanya dalam mimpi

Selain lagu ayah, lagu lain yang juga sering dinyanyikannya adalah lagu IBU.yang dulu popular dinyanyikan Dina Mariana
Oh ibuku..hatiku piluuuuu.
( ngebayangin muka Herman jadi ngakak)
Seorang diri
Bila kuingat masa yang telah silam
Kudibesarkan oleh ibukuuuu di kampung halamanku...
dst ( saya lupa, males search di google hehe)

Dua nyanyian kesukaan Herman menjadi bukti kecintaan pada Ayah dan Ibunya, sebuah contoh baik dari seorang Herman buat kita semua.

Contoh baik lain yang mungkin tak dimiliki oleh kita yang hidup lebih dari kekurangan yang dimiliki Herman adalah sikap dan kepedulian sosialnya yang tinggi. Jika sepanjang jalan yang dilalui dengan sepedanya Herman melihat ada bendera kuning, Herman pasti mampir bertakziah tak peduli dikenal atau tidak olehnya orang yang meninggal itu.
Luar biasa...

Sudah lama saya tak melihat Herman sejak lulus SMA, namun setiap kali hari Pramuka tiba, dikepala saya selalu teringat sosok Herman Pramuka, masih hidupkan dia ?

Hari Pramuka 14 Agustus 2011 lalu, seorang teman saya berhasil mendapatkan foto Herman ( tentu saja masih dengan pakaian pramuka kebanggaannya) ikut hadir di lapangan upacara.
Herman terlihat jauh lebih tua dari terakhir yang saya lihat. ( ya iyaaaa laaah gw juga makin tua). Namun semangat dan jiwa pramuka sejati masih muncul dari sorot mata dan langkah tegapnya.


Sekarang, andai saya bertemu dengan Kak Herman, saya tak mungkin berani mengolok-olok atau menggodanya, tak ada yang pantas dari Kak Herman untuk di olok-olok. Kak Herman layak dijadikan contoh keteladanan seorang Pramuka Sejati.

Semoga Kak Herman senantiasa setia pada Dasa Darma Pramuka, senantiasa diberikan kesehatan dan Allah mengangkat derajatnya, memberkahi dan melindunginya dalam setiap langkahnya... Aamiin.




 
Foto punya Dayat Acho

Sunday, July 24, 2011

Kelak, Makam Pahlawan Kab. Tangerang Ada di Lengkong Kulon

Waktu Tangerang hanya memiliki satu wilayah ( Kabupaten Tangerang Saja), Sebetulnya Tangerang sudah memiliki Taman Makam Pahlawan Taruna.  Kemudian ketika terjadi pemekaran wilayah, Kabupaten dan Kodya Tangerang maka TMP Taruna secara georafis berada di wilayah Kodya Tangerang, dan Kabupaten Tangerang akhirnya  TMP Seribu di Serpong sebagia TMP Kabupaten.

Selanjutnya, ketika pemekaran Kabupaten Tangerang terjadi kembali, Serpong yang dahulu masuk wilayah Kabupaten sekarang masuk wilayah Kota Tangerang Selatan dan otomatis kembali Kabupaten Tangerang kehilangan TMPnya.
Itulah sebabnya Pemda Kab Tangerang sudah memutuskan menjadikan situs kompleks makam salah satu pendiri Kabupaten Tangerang Arya Wangsakara yang berada di Desa Lengkong Kulon Kec. Pagedangan menjadi lokasi TMP Kabupaten Tangerang.

Saat saya berkunjung ke kampung saya ini, di komplek pemakaman Arya Wangsakara, beberapa warga setempat sedang sibuk membangun dan memperbaiki beberapa makam dan mempercantik areal sekitar makam, karena selain TMP didalamnya rencananya juga akan dibangun mueseum dan cagar budaya.

Dikompleks pemakaman ini,selain Arya Wasangkara, juga dimakamkan kyai-kyai lain yang turut berjasa dalam pengajaran agama islam dan perjuangan melawan penjajah.

Di seberang makam kelak  juga akan dibuat lapangan tempat upacara berlangsung yang menghadap ke makam, begitu ujar  salah seorang sesepuh masyarakat Lengkong Kulon yang saya temui di komplek makam. Kapan peresmian TMP ini dilakukan ? saya belum mendapat informasi yang tepat.

SIAPA ARYA WANGSAKARA ?

Raden Arya Wangsakara (R.A. Wangsakara) adalah seorang ulama atau kiai yang berasal dari Sumedang  Jawa Barat. Beliau merantau ke wilayah Tangerang karena tak sepaham dengan saudaranya yang berpihak kepada penjajah. 

Dalam pengembaraan Aria Wangsakara memilih daerah ditepian sungai sebagai tempatnya bermukim dan mengajarkan agama islam dengan cara mendirikan pesantren dan mendirikan mesjid.  Sama seperti pesantren di daerah Kalipasir dan di daerah Grendeng juga berada di tepi sungai Cisadane, karena santri harus dekat dengan sungai untuk memudahkan berwudhu kata sesepuh yang berbincang dengan saya.  

Arya Wangsakara memiliki dua istri, istri yang pertama berada di sebelah barat desa dan istri keduanya berada di sebelah timur desa.  Pesantren yang didirikan Arya Wangsakara berada di barat desa, itu sebabnya ada sedikit gurauan dari orang Lengkong, bahwa orang timur lebih pesolek dan lebih cantik karena istri kedua Arya Wangsakara berasal dari sana, sedangkan orang barat lebih religius karena istri pertama dan pesantren ada di wilayah barat.

Kini rumah bekas istri pertama Arya Wangsakara masih ada namun sudah mengalami banyak perubahan ( sayang saya lupa foto rumah itu) hanya tersisa pohon asem besar sebagai penanda atau pintu masuk menuju desa itu. 

Sayang tak banyak dokumen tentang Arya Wangsakara yang bisa saya peroleh, seorang bapak yang menemani saya bercakap-cakap bersedia mengantarkan saya ke seorang sesepuh yang rumahnya di daerah Curug Tangerang, beliau bilang orang itu memiliki silsilah lengkap Aria Wangsakara. ( kapan-kapan kalau ada waktu saya ingin sekali melihat dokumen itu)

PERTEMPURAN LENGKONG

Selain sebagai ulama, Arya Wasangkara juga juga ikut aktif berjuang melawan VOC. Semangat melawan penjajah dari Aria Wasangkara diteruskan penduduk setempat pada masa penjajahan jepang, nenek dan kakek saya dulu sering bercerita mengenai perjuangan melawan NICA di desa Lengkong.
Bukti adanya pertempuran melawan penjajah ada di monumen perjuangan Lengkong yang terletak di seberang sungai Cisadane dekat air mancur BSD meski sebetulnya pertempuran itu ada di desa saya, Desa Lengkong Kulon seberang kali cisadane.

Dulu waktu saya masih kecil, di sela-sela pekuburan karet masih nampak beberapa makam pejuang yang gugur pada pertempuran itu, saat pembangunan perumahan BSD, makam-makam itu direlokasi ke TMP Seribu, sedangkan bekas markas Jepang tetap dipertahankan dan dibuatkan monumen yang lebih bagus lagi. 


Dengan bukti historis diatas, tak salah rasanya jika Lengkong Kulon saya sebut sebagai Desa Perjuangan Tangerang dan pantas sekali jika TMP Kabupaten Tangerangpun berada di sana.


Tulisan ini sudah saya posting di  kompasiana




Wednesday, July 7, 2010

Tangerang Tempo Doeloe




Foto2 Tangerang Tempo Doeloe di bawah ini saya copy paste dari Troppen Museum dan http://kitlv.pictura-dp.nl/.
Seru juga membayangkan kondisi Tangerang Dulu dan Sangat jauh jauh jauh sekali bedanya.
Pintu Air Tangerang, bangunannya masih ada, tapi suasana sekelilingnya sudah jauh berbeda.

Kuil Cina di Mauk, waduh ini mungkin tepekong yang ada di tepi pantai dekat tanjung kait mauk.
Juga rumah tua di Mauk, itu belum pernah saya lihat. Mungkin juga rumah itu sudah tidak ada.

Kalau Rumah Tua Oei Djie San, saya sempat melihatnya dan sudah saya posting rumah terakhirnya sebelum di bongkar.

Kemudian yang hilang sama sekali dan saya belum pernah melihat juga padahal sering lewat situ jika sekolah dulu adalah gerbang dekat stasiun KA ( bagus banget ni gerbang andai masih ada ),

Tangerang yang dulu terkenal sebagai kota kerajinan pernah menjadi daerah eksportir topi bambu. Jutaan topi Tangerang diekspor ke Eropa setiap tahun pada masa jayanya. Waktu saya SMP / SMA saya masih sempat melihat beberapa toko penjual topi dan bahan topi bambu di daerah Grendeng.
Dengan bahan topi bambu yang kemudian di bongkar saya membuat anyaman tempat pinsil, pelapis kendi dan pelapis gelas untuk tugas mata pelajaran kesenian.
Sayang semua sekarang tinggal kenangan, saya sudah tidak menemukan lagi pengrajin maupun penjual topi bambu di Tangerang.



Saturday, May 16, 2009

Sunda Tangerang

Saya sebetulnya bukan urang sunda asli , ngaku2 aja urang sunda, karena bahasa daerah yang sedikit saya kuasai itu adalah bahasa sunda.. dan itupun saya kuasai karena masa kecil saya tinggal di daerah Tangerang.
Ada orang yang bilang  Tangerang  atau Banten sekitarnya itu bukan sunda.
Berdasarkan pengalaman teman lain ( di milis urang sunda ) yang pernah tinggal beberapa tahun di Banten, setelah Banten merdeka dari Jawa barat, terlihat ada 2 sikap diatara beberapa elit Banten (meskipun tidak mewakili masyarakat Banten pada umumnya ) merasa ada hubungannya antara Banten – Sunda. Dan menyebutkan bahwa Banten itu ya masih sunda juga, tidak ada bedanya dengan masyarakat sunda lainnya di Jawa Barat.
Meskipun Banten pisah dari Jabar, itu  hanya pisah secara administrasi dan kewilayahan aja. Orang Banten tetap “penutur bahasa sunda aktif dan pelaku budaya aktif’
Sikap ke dua, terasa lebih bersemangat, karena ‘Banten  bukan sunda”. Banten harus punya cirri khas tersendiri. Bahasa sunda banten atay bahasa jawa banten bisa dijadikan identitas mandiri. Begitu juga dengan kesenian, pakaian adapt Banten punya cirri tersendiri
Itu kata2 (di imel siapa ya saya lupa ) yang pernah saya baca di  milis urang sunda.

Bagaimana menurut saya  sendiri ?
Ah menurut saya mah, Banten , Tangerang dan sekitarnya ya termasuk Sunda juga.
Terserah orang priangan atau Jawa Barat sana bilang Banten bukan sunda, tapi orang Banten yang berbahasa sunda bisa nyambung kok ngomong sama urang sunda Jawa Barat. Perbedaan bahasanya  tidak terlalu banyak kok, meskipun mungkin ada beberapa kata yang membuat olohok bengong warga jawa barat karena tidak mengerti maksudnya. Atau juga dialeknya yang terlihat lebih kasar (khas pendekar hehehe ) dibanding dialek orang Jawa Barat yang mendayu dayu. Dan buat saya sungguh menyenangkan bisa belajar bahasa Sunda dengan kedua dialek tersebut dan pemakaiannya saya sesuaikan dengan keadaan. Kalau berbicara dengan urang sunda Jawa Barat, maka saya mencoba sebisa mungkin untuk menggunakan bahasa sunda dialek jawa barat meskipun  bagi mereka dialek saya terasa aneh di dengar, gak apa2 namanya juga belajar, itu sebabnya saya suka sekali milis urang sunda yang mewajibkan memposting dalam bahasa sunda. Dari milis itu juga saya belajar bahasa sunda halus dan hasilnya ketika bertemu keluarga saya dari Sukabumi atau Sumedang, mereka menilai bahasa sunda saya sudah lebih gaya dan meliuk-liuk dibanding waktu saya SMA.

Kenapa.. ya dulu bahasa sunda yang saya pakai bahasa Sunda Tangerang.. bahasa sunda ala Banten.
 

Tadinya saya merasa senang saya semakin bisa berbahasa sunda ala Jawa Barat, tapi kemudian berubah menjadi sedih karena merasa kehilangan bahasa sunda ala Tangerang.
Ketika melihat  anak-anak bibi saya yang dulunya berbahasa sunda Tangerang, sekarang sudah tidak lagi menggunakan bahasa sunda Tangerang. ( kalo di keluarga saya Cuma satu kakak saya yang gak berbahasa sunda sejak kecil , lainnya berbahasa sunda Tangerang sampai sekarang ).  Kemudian teman-teman SMA saya yang dulu masih berbicara bahasa sunda, sekarang tinggal beberapa orang saja yg masih berbahasa Sunda Tangerang diantaranya  teman saya Alul namanya. Alul sejak SMA sampai sekarang tetap konsisten berbahasa sunda Tangerang dengan teman-temannya termasuk dengan saya, meskipun mungkin di sebagian telinga orang-orang yang mendengarkan kita bercakap cakap ketika makan di lippo karawaci yang mayoritas penduduknya bukan orang Tangerang asli tapi saya dan Alul cuek dan tetap berbahasa Tangerang.

Sayangnya ketika saya tanyakan ke Alul apakah anak-anaknya berbahasa Tangerang juga ? dia bilang ‘jeeeuuu hese cho,nyana mah  embungeun make bahasa sunda, isineun jasaaa,’
Ada tambahan ‘jeeeuu’ dan ‘jasa’ yang khas dari bahasa sunda Tangerang yang membedakan dengan bahasa sunda Jawa Barat.
Demi kecintaan saya pada bahasa Tangerang, setiap kali bertemu teman SMA yang mayoritas orang Tangerang asli, sekarang saya biasakan berbahasa sunda Tangerang.
 
Sedikit perbedaan bahasa sunda Tangerang / Banten dan sekitarnya dengan bahasa sunda Jawa Barat yang saya ingat  ( *urutannya , sunda tangerang – sunda Jabar – Indonesia)
 
Kebel = Lila = Lama
gati = Hese  = susah
ja  = Da = mah
marah = ngambek
tilok = tara = tidak
haliwu = rebut = repot
lalagaan = loba gaya = banyak gaya/becanda
Embung = alim = gak mau
Engke = engkin = nanti
Nyana = anjeuna = dia
Aing,urang = abdi = saya
Lamun=upami= kalau
Kekenceng=katel=penggorengan
Noong = ningali = melihat
Geura = geuwat = cepat 
Laju = terus = selanjutnya
Amat = Pisan = sangat
Hakan = tuang/dahar = makan
Dangdeur = sampeu = singkong
Pan = naha = kenapa

Ini bahasa sunda daerah serang dan sekitarnya
doang =  siga = seperti
buri = Tukang = belakang
cacahan = Ngobrol = ngobrol
endung = embung = gak mau
dia = anjuen = kamu 
jojodog= dingklik

Ayo yang ngaku orang Tangerang asli ada yang mau ditambahin gak bahasa sunda Tangerangnya  ?

 
 
 

 

Friday, November 7, 2008

Napak Tilas di Tangerangscheweg

Tangerang sekarang sudah beda jauh dengan Tangerang ketika 20 tahun lalu atau bahkan 10 tahun lalu gue tinggalkan. Bukan artinya gue gak pernah lagi ke Tangerang sejak 10 atau 20 tahun lalu, tapi ada beberapa tempat yang memang sudah lama gak pernah gue lewati.
Kalau ke rumah Ibunda atau ke rumah kakak yang di Tangerang, gue lebih suka lewat tol.
Jadi itu sebabnya gue agak sedikit norak ketika hari jumat lalu 'terpaksa' ke kantor pajak Tangerang.

Mula2 yang gue lihat berbeda adalah tempat nge-tem angkutan di pinggir kali cisadane di cikokol-Karawaci, dulu mah gak asik pisan itu tempat, sekarang mah enak nunggu di halte pinggir kali dengan angin sepoi sepoi, mata juga seger karena di sampingnya banyak penjual tanaman hias.

Dari KPP Karawaci, berhubung KPP Tangerang sekarang sudah dipecah menjaid Tangerang Barat dan Tangerang Timur, maka gue harus ke KPP Tangerang Timur yang terletak di Jl. TMP Taruna. ( ini jalan penuh kenangan ).
Yang berubah sepanjang jalan ini adalah route angkot 02, harus melewati grendeng - koang - grendeng pinggir kali, jembatan cisadane-pinggir kali belakang robinson..( aduuuh routenya makin jauh cuma muterin kali doang) - Masuk ke Jl. TMP Taruna

Jl. TMP Taruna ini jauuuh beda, dulu mah gak ada angkot lewat jalan TMP ini, angkot cuma lewat depan RS Umum Tangerang dan gue turun di situ kemudian jalan kaki atau naik becak menuju sekolah, tapi lebih banyak jalan kakinya sih.. selain ngirit ongkos, jalan kaki juga bikin sehat dan yang pasti jalan sama2 temen sambil becanda itu gak ada capenya deh.
Kali Sipon di Jl. TMp Taruna juga sudah bagus, bersih dengan dan ada tanggul pinggir kalinya jadi bukan berupa rumput liar atau tanah yang sering longsor.
Jadi kebayang ketika Pak Rudjito Kep Sek Smanduta di ceburin ke kali sipon oleh siswa2nya ketika pengumuman kelulusan dulu, kasihan pak Ito, dulu kalinya kotor.. geuleuh pisan, sekarang mah mau berenang di situ juga silahkan aja.

Oh ya Jalan Raya dan gedung Kodya Tangerang dulu itu adalah jalan pintas gue dan kawan2 menuju rumah salah seorang teman di Komp. Kehakiman, dulu masih sepi.. agak2 serem juga lwwat situ. Sekarang di situ sudah ada bangunan Kodya, Gedung DPRD Kodya, Kantor Pajak, bahkan mesjid megah sudah berdiri di sana.
Sayangnya di sekitar kodya gak ada tukang laksa Tangerang, ini makanan yang selalu gue rindukan kalau ke Tangerang. Penjual laksa bisa ditemukan di sepanjang jalan STM menuju cikokol, tapi gue agak males menuju ke sana karena waktunya mepet sementara gue masih harus ke Kantor Pajak Kab. Tangerang yang di Lippo Karawaci. Untungnya Ratu temen SMA gue bersedia ngantar dengan Vega nya.

Berhubung Ratu kalah nyali dan kalah body kaloboncengin gue, dengan sedikit memaksa Ratu minta gue yang bawa Veganya. Gila, udah lama kan gue gak naek motor, apalagi naik motor di Tangerang itu terkahir ya masa SMA aja. SIM juga gak punya, tapi Ratu bilang tenang ajalah kalo ketangkep polisi kan ada Oong temen sekelas kita dulu yang jadi kepala lakalantas di polsek Tangerang, yang penting elu masih punya nyali .
waduh.. di tantangin gitu, boleh lah..
Akhirnya.. dari meulncurlah veganya ratu dibawah kendali gue, gak berani naik gigi 4, maksimal 3 doang, duh mana angkot2 koq pada ngikutin gue terus, tapi lama2 enak juga menyusuri jalan A Yani, nyimpang dulu lihat rumah alm. Anggi, trus coba masuk Jl. Kelapa kuning eh nyasar haha.. udah lah ikutin jalan normal aja. Lama2 kecepatan si vega naik dengan sendirinya di atas 60km.
Sayangnya hujan tiba2 lebat, untung baru sampe jembatan cisadane, berhubung gak bawa mantel, langsung deh belok kanan ke arah Bumec ( orang Tangerang asli mesti tau nih Bumec itu apa ). Langsung mampir ke rumah Neneng.
Rencana cuma mampir sekedar berteduh jadinya malah ngetem karena hujan gak brenti an malah asik ngobrol.

Agak sorean, hujan berhenti, kantor pajak pasti sudah tutup, akhirnya pulang aja deh. Kembali Ratu minta gue yang bawa veganya. Berhubung lagi demen naik motor dan nyali juga sudah makin terkumpul, gue bawa lagi deh dari Grendeng sampai Cipondoh.
Route yang diambil kali ini bener2 route sangat asing buat gue, gak tauh iin di bawa kemana, yang jelas gue cuma ikut perintah ratu.. kiri.. kana.. depan belok kanan.. dan seterusnya.
Tapi jalanannya asik.. luruuuuus terus.. dan sepi, beneran sepi dan si vega pasti lebih dri 60km/jam.
Ternyata akhir dari jalan yang lurus dan di ridhoi ini adalah jalan mnuju kompleks garuda Cipondoh. gue tanya ratu ini jalan apa ? Poris katanya.. Oh..ini toh paris hehe..

Akhirnya.. Finish di Kecamatan Cipondoh, gue serahkan kembali kendali vega kepada Ratu, sambil gue tanya ini kredit sebulannya berapa ?









Friday, October 19, 2007

Lengkong Kulon.


Mau cerita dikit  mengenai profil desaku tercinta ini, gue sedikit ragu nyebutnya Desaku, karena Lengkong saat ini jauh dari kesan desa, karena berbagai fasilitas dan akses yang begitu mudah dicapai menuju ke sana. Yang bisa nandain bahwa Lengkong masih layak di sebut desa adalah karena bentangan sungai cisadane yang melewati desa tersebut, dan penduduknya masih banyak yang menggunakan moda transportasi getek ( rakit dari bambu) untuk menuju ke Sekolah, tempat kerja atau ke luar dari Lengkong untuk berkatifitas, selain itu sungai cisadanenya juga masih digunakan untuk cuci baju, cuci piring, mandi dan output terakhir hehe..

 

Bapa gue berasal dari Desa tersebut, Lokasi tepatnya di Lengkong Kulon ataus ering juga di sebut lengkong Kyai/Lengkong Ulama, kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang. Gue dan 2 kakak gue  pernah tinggal di sana selama kurang lebih 3 tahun bersama nenek dan kakek waktu kelas 2 SD karena ibu sekolah lagi dan repot ngurus anaknya.

Satu kali dalam sebulan  Ibu dari Jakarta ke Lengkong menyambangi kita untuk melepas kangen. Jangan bayangkan perjalanan Jakarta-Serpong yang sekarang bisa ditempuh dengan waktu kurang dari 1 jam ya, waktu itu ibu harus naik mobil bis Gamadi, kemudian disambung dengan naik mobil jenis Wilis jurusan Serpong, untuk menuju pinggir kali cisadane  Ibu harus jalan kaki melewati kebun karet, melewati tugu peperangan dulu dan makam para pahlawan tak di kenal yang gugur waktu perang lengkong Lengkong 25 Januari 46, Salah satu Pahlawan yang gugur di sana adalah Mayor Daan Mogot, juga ada 2 pamannya Prabowo yang gugur dalam pertempuran itu.Sayang saat ini makam2 tersebut sudah dipindahkan demi pembangunan BSD.

Penduduk di Desa lengkong ini mayoritas pekerjaannya pedagang, guru, ustadz, pembuat kaligrafi ( ini profil ortunya). Kalo profil anak2nya saat ini kebanyakan jadi guru. Desa Lengkong ini juga terkenal sebagai kota santrinya wilayah Serpong, gak aneh kalo Lengkong Kulon sering juga di sebut Lengkong Kyai. Bersilaturahmi dari rumah ke rumah di satu  Desa Lengkong Kulon mungkin gak sampe satu jam, karena jumlah rumahnya gak banyak, kita sebut dari Girang ke Hilir ( mestinya Hulu ke Hilir ya.. ) Gak sampe 110 rumah yang ada di sana. Di Lengkong ini kalau lebaran tiba, banyak sekali muka2 timur tengah ( Arab) yang datang bersilaturahmi, sebenernya ini juga sempet jadi pertanyaan gue, orang Lengkong ini cikal bakalnya dari mana ya ? koq banyak keturunan arab yang tinggal di sini. Dan Paman gue salah satunya juga punya istri orang keturunan Arab. Irama padang pasir dan Joget gaya arab pasti ada kala ada acara kawinan di sini.

Setiap Lebaran keluarga besar M.Z ( kakek dari bokap), pasti ngumpul di sini. Sama2 Ziarah ke kuburan Kakak nenek, Bapa Gue, Paman2 Gue. Begitu juga lebaran lalu.  Kembali ke Lengkong buat gue sama seperti mendapatkan Inhaler di kala flu.. Semoga meskipun ada satu keluarga yang membuat gue kecewa gak akan bisa membuat gue untuk tidak kembali lagi ke Lengkong.