Begitupun Hari Rabu kemarin, rasa haru sudah mulai terasa sejak calon mempelai wanita berjalan menuju mesjid tempat akad nikah berlangsung. Dibelakang mempelai segera terbayang kenangan 24 tahun lalu ketika gadis berbaju pengantin putih ini lahir kedunia diiringi takbir Iedul Adha berkumandang. Mempelai wanita itu, keponakan saya.. Farieza Iedha Qirana.
Kenapa nikah hari rabu tidak hari libur ? ini bukan karena hitung-hitungan weton, tapi karena memang waktunya sangat mepet. Icha & calon suaiminya cuma dapat libur lebaran itu juga sudah mundur dan cukup lama, padahal mereka harus berangkat lagi ke Manokwari tempat tugas Icha & Rifai hari sabtu malam.
Jika memilih menikah tanggal 4 Sept, pasar-pasar belum banyak yang buka, dan masih banyak kerabat yang pulang kampung.
Meskipun sebelumnya saya sempat kecewa dengan keputusannya menikah cepat, namun saya akhirnya turut berbahagia sejak Icha dilamar sampai hari pernikahannya, inilah puncak bahagia saya selaku Antenya Icha, kebahagiaan yang melebihi bahagia saya saat mendapat kabar Icha diwisuda. Rasanya seperti mengantarkan anak sendiri ke gerbang pernikahannya.
Saat ijab kabul antara Ayah Icha dan Rifai calon suaminya yang berjalan lancar hanya dengan satu kali pengucapan dalam satu helaaan nafas, semua mengucap syukur, alhamdulillah... sah sudah Icha dan Rifai sebagai suami istri,saya punya keponakan baru.
Shalawat badar mengiringi ungkapan bahagia dan selamat kepada Icha dari seluruh keluarga.
Selamat buat Icha & Rifai, semoga kalian berdua menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah. Smoga Icha jadi Istri dan Ibu yang baik dan setia, begitu juga Rifai, semoga mampu menjadi pembimbing dan imam dalam keluarga barunya.