Sunday, December 18, 2011

Indonesia Mengajar

Rating:
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Bentang Pustaka
Buku ini baru saya beli minggu lalu, meski sebetulnya saya pengen buku ini sewaktu saya membaca berita bedah buku/peluncuran buku ini diacara book fair lalu. Tak apa telat-telat juga bacanya. Sengaja saya beli buku ini meski saya sering mampir di tulisan2 pengajar muda di situs http://indonesiamengajar.org/ , karena saya ingin buku ini juga menginspirasi anak saya yang suka ikut baca ( meski tak semua ) dan minta diceritakan isi buku yang sedang saya baca.

Terus terang, sejak diluncurkannya program Indonesia Mengajar oleh Pak Anies, rasa kagum, salut dan bangga terhadap programnya juga para pengajar muda tak pernah lekang dalam diri saya, salut dan bangga masih banyak anak muda yang peduli dan terpanggil untuk berbakti pada negeri.

Membaca buku ini satu demi satu kisah-kisah yang dituturkan para pengajar muda mebuat saya tersenyum, haru,bangga dan kian salut kepada anak - anak muda yang mayoritas pintar dan berprestasi ( saya lihat dari biografi pengajar muda di halaman belakang buku ini) mampu menyiasati kendala berhadapan dengan anak-anak didiknya yang beragam sifat dan karakternya. Saya salut kepada Mbak Yunita Ekasari Bahrun, PM di Tulang Bawang Barat yang kesulitan mengajarkan perkalian untuk anak kelas 2 SD dan kemudian mampu membuat anak-anak itu justru semangat dan meminta terus pelajaran perkalian. Saya juga kagum kepada Mbak Sekar Arum PM Majene yang memberikan semangat kepada anak-anak untuk bisa bertemu dan dengan pembesar negeri Presiden dan Wapres RI yang tak pernah mereka temui dengan cara kompetisi menulis surat, hingga akhirnya salah seorang muridnya Satriana berkesempatan bertemu dan mewawancarai langsung Pak Budiono Wapres kita dalam satu kesempatan.

Para pengajar Muda, saya percaya mereka orang muda pilihan yang tangguh, ketulusan mereka terbukti juga pada cerita salah satu PM di buku ini, Mas Yuriza Primantara Sarjana Teknik ITB, PM di Tulang Bawang Barat yang mengalami pergolakan batin karena "hanya" ditugaskan sebagai guru olah raga oleh kepala sekolah tempatnya mengajar, namun berkat ketulusan dan prinsipnya " saya datang untuk menjadi pencerah bukan pesakitan" semua berakhir manis. Dan..masih banyak lagi kisah para PM yang mengharu biru, kocak,mencerahkan di buku ini.

Dibagian terakhir buku ini, saya melihat peta penempatan PM yang kebanyakan di pelosok,pinggir pantai dan ujung pulau di kepulauan Indonesia. Mereka saudara kita yang punya hak yang sama, mendapat pengajaran. Semoga buku ini makin banyak menyentuh orang muda yang peduli dengan pendidikan anak bangsa yang berada di sana. Keterlibatan dan kehadiran mereka di sana terbukti membuka cakrawala berpikir baru bagi anak-anak, guru-guru dan penduduk setempat.

Sekali lagi, salut, dan aprresiasi yang tinggi dari saya buat Pak Anies Baswedan dan para Pengajar Muda atas baktinya pada negeri. Cuma ada satu pertanyaan yang belum saya tahu jawabannya. Para PM di buku ini kenapa semuanya lulusan perguruan tinggi negeri ya, tidak adakah orang muda lulusan universitas swasta yang terpanggil dan lulus jadi PM ?

Tuesday, December 13, 2011

Tak Ada Lagi Tegur Sapa

Sudah hampir  tiga mingguan ini saya jadi penumpang setia angkot 09 jurusan Green Garden - Kreo, saya naik dari depan Mercu Buana sampai Kreo, karena saya nebeng motor teman saya sampai Mercu Buana.
Biasanya saya naik di Mercu sekitar jam 18.30-an.  Dan beberapa kali naik angkot saya beberapa kali juga bertemu dengan wajah-wajah yang kemarin saya temui di angkot yang sama. Bisa jadi karena mereka juga rutin sebagai penumpang setia 09.

Sambil menikmati perjalanan (yang selalu macet di perempatan Joglo) saya perhatikan penumpang-penumpang  mereka sepertinya sudah biasa menikmati kemacetan di angkot, menikmati sambil asik mendengarkan music dari Hp atau pemutar musik yang ada di dalam tasnya, terlihat kabel earphone menjuntai di telinga kiri kanannya. Sementara yang lain menikmati macet sambil memainkan keypad BB atau HPnya.  Asik sekali nampaknya dan tak peduli dengan macet dan gerah melanda. Sementara saya sudah blingsatan kegerahan dan kesel nunggu macetnya, biasa selap selip bersama si maung rupanya membuat saya tak tahan macet di dalam angkot.

Pengen juga rasanya seperti mereka yang menikmati lagu dr HP atau asik memainkan HP dan BB di angkot, tapi saya koq parno ya ngeluarin HP di angkot, padahal HP saya juga gak bagus-bagus amat, tak perlu kawatir kalau ada orang nakal tergiur HP saya, meskipun kalau hilang ya nyesek juga hehehe..
Belum lagi susahnya tangan saya bergerak lincah sentah sentuh layar HP dengans atu tangan, pasti tulisannya berantakan, beginilah nasib punya jempol gede tapi sok-sok-an pengen pake HP layar sentuh. Mau pakai 2 tangan seperti biasa, tangan kiri pegang HP dan tangan kanan sentuh layar untuk nulis ya pasti sempit, kasian penumpang di kiri kanan saya yang sudah dipaksa duduk 4-6 apalagi body saya ukuran satu setengah penumpang.. :-)

Bertemu dengan beberapa wajah yang familiar di angkot namun tanpa tegur sapa karena mereka asik sendiri dengan HP nya, membuat saya teringat masa-masa saya pasing jadi penumpang setia patas 89, Andalan atau AC 59 jurusan Blok M - Tj Priuk.
Di bus itu pada jam yang sama biasanya akan bertemu penumpang yang wajahnya sudah familiar. Karena seringnya bertemu jika kebetulan satu tempat duduk akhirnya kita jadi ngobrol, saling kenalan, minimal tanya turun di mana, kemudian berlanjut kantornya di mana, rumahnya di mana dan seterusnya, sepanjang perjalanan di isi dengan ngobrol ringan, kadang tukeran koran atau tabloid yang dibawa.
Saya jadi punya kenalan Mbak Endang yang suaminya kerja di gramedia, Mbak Tanti yang kerja di Ice Cream Diamond ancol, dan beberapa orang lagi yang sekarang saya lupa karena sudah tak berhubungan lagi. 

Tadi saya juga bawa Della ke dokter, di dokterpun begitu, orang tua, bahkan mungkin pasien menunggu antrian dokter sambil memainkan BBnya, tak ada lagi obrolan saling sapa, sakit apa anaknya dan seterusnya seperti dulu waktu saya bawa Seno atau Della ke dokter waktu mereka mash balita. Majalah usang di ruang tunggu dokter juga sudah tak laku lagi.

Jaman memang sudah berubah, teknlogi membuat kita tak ramah lagi, tak ada lagi tegur sapa ramah untuk orang yang terdekat dengan posisi kita di dunia nyata. Mayoritas asik beramah tamah dengan orang yang jauh dan tak tampak mata.








Saturday, December 10, 2011

Salah Data Lagi

Ini kejadian ke 2 soal verifikasi data kemaren. Ini bukan salah data atau salah siapa-siapa,tapi lagi-lagi salah duga jenis kelamin.

Ceritanya, modem smart ini selalu si babeh yang isi pulsanya, berhubung lemot dan si babeh gak mau pake lagi, jadilah si smart selalu saya bawa ke kantor, tau kan kalau di kantor saya fasilitas internetnya dudul banget, gak bisa buka sembarang web, cuma bisa gmail dan webnya kantor doang..payah !!

Ternyata ini pulsa si smart jumat kemarin sudah habis, saya isi pulsa, kemudian coba registrasi pengikuti petunjuk, yg pake 123* apalah itu, lupa ( dikasih tahu teman) tak berhasil juga, akhirnya ke customer carenya deh, mulai deh ditanya-tanya validasi data.
Di suruh nyebutin nomor dan tanggal lahir.
Berhubung saya inget ini modem yang beli si babe, saya sebut  tangga lahir si babeh, ternyata si mbaknya bilang," salah bu..data tanggal lahir tidak valid. "
 "oh salah ya, lupa saya  waktu registrasi pakai nama saya atau suami ya ?
"ini pakai nama suami ibu "
"ya kalau pakai nama suami saya, tanggal lahir suami saya ya itu tadi mbak 22 maret."
"tapi masih salah bu."

Tiba-tiba saya baru nyadar, mungkin waktu registrasi pakai ktp saya ya dan   si mbak menduga itu nama suami saya... doooh gegara nama Cholishoh Ahmad di ktp nih.

"Hmm.. ya udah deh mbak, kalo gitu tanggal lahir suami saya tgl 26 juni, bener gak mbak ?"
"Benar bu.." 





Friday, December 9, 2011

Menyamakan Yang Tidak Sama

Biasanya kalau kita telpon dan bicara dengan petugas layanan phone banking, atau layanan lainnya suka diminta verifikasi data dulu kan ya.  Begitu juga hari ini koq saya butuh telpon ke 2 layanan yang memerlukan verifikasi.
Yang pertama, telpon ke BNI, sebetulnya paling males telpon ke bank kalau gak sangat perlu. Ini saya  telpon juga karena ada e-mail tagihan credit card master BNI yang tidak bisa saya buka sama sekali karena saya memang tak punya kartu master BNI, saya sudah kirim email balik ke customercarenya, tetep aja customer care BNI gak care juga. Padahal tagihan ini terus muncul sampai 3 bulan berikutnya.

Takut kalau-kalau malah berbunga dan saya harus bayar, maka saya telpon ke BNI, dan seperti biasa dilakukan verifikasi data.

Mbak BNI : nomor kartu BNI master ibu berapa ?
Saya : Saya gak punya kartu BNI master Mbak, makanya saya bingung waktu dikirimi
tagihan" BNI master lewat e-mail.


Mbak BNI : Nomor kartu BNI yang lain berapa ?
Saya        : ada, BNI visa nomor, xxxx xxxx xxxx xxxx

Mbak BNI : atas nama ?
Saya : Saya sendiri ( nyebut nama asli lengkap )

Mbak BNI : tanggal lahir :
Saya :  26-06-xx

Mbak BNI : nama ibu kandung  ?
Saya :  xxx . xxxxx

Mbak BNI : maaf bu, nama ibu kandungnya beda
Saya : apaaaa ?? masa saya gak hafal nama ibu kandung saya.  xxx belakangnya nama bapak saya kan

Mbak BNI :  belum lengkap bu..
Saya : belum lengkap apanya, itu udah bener nama ibu saya

Mbak BNI : gelar nya belum ada
Saya : Ibu saya bukan sarjana, beliau gak punya gelar

Mbak BNI : gelar di depan Bu.
Saya : waah.. apa ya, gak ada ibu saya alhamdulillah masih hidup Mbak, belum alm.

Mbak BNI  : gelar ningrat mungkin ?
Saya : Ohhh.. ya ya... hehehe... tapi itu bukan gelar ningrat Mbak

Mbak BNI : ok benar.. ditunggu sebentar sekitar 2 menit saya cek dulu kartu master ibu ya, karena data di sini ibu memiliki 2 kartu Visa dan Master.
tuuuuttt...

Saya tunggu tak lama kemudian, si Mbak BNI kembali bicara

Mbak BNI : Ibu., kartu BNI Master Lotte Mart sudah kami kirim ke alamat rumah ibu dan sudah di terima oleh suami ibu tanggal sekian .
Saya : Wah.. saya gak terima, mungkin di keep sama suami saya, istrinya gak boleh ngutang terus Mbak, kalau gitu saya tutup saja lah Mbak, saya gak pernah ngajuin kartu itu koq, ke Lotte Mart aja saya belum pernah, di mana sih Mbak Lotte Mart ?

Mbak BNI : Lotte Mart itu ex Makro bu, ada di kelapa gading dan gandaria city, ibu tidak coba gunakan dulu kartunya, sayang lho bu.
Saya : Gak usah deh Mbak, wong saya juga gak tahu kelapa gading itu dimana, gandaria city itu di mana, saya jarang ke mana-mana Mbak .

Mbak BNI : ( mulai bete kayaknya ). , baik bu, saya akan lakukan proses penutupannya, sebelumnya kita samakan data lagi. alamat pendaftaran kartu di mana ?
Saya : Alamat rumah saya maksudnya ? kan itu kartu katanya sudah sampai di rumah saya, ya ke situ Mbak rumah saya.

Mbak BNI : alamatnya ?
Saya : Jl. Wijaya Kusuma  bla bla bla ..( heran mesti di sebutin aja)

Mbak BNI : Alamat Kantor ?
Saya : Jl Daan Mogot No. xxx

Mbak BNI : koq beda lagi ya bu
Saya : Lho... koq beda, kantor saya ya di sini, emang di data alamat kantor saya di mana , mungkin masih pakai alamat lama ya ? di PT. AI...

Mbak BNI :  Kurang tepat Bu.. PT Astra apa ?
Saya : iyalah saya lupa daftarnya dulu waktu saya masih kerja di Astra Internasional TSO atau waktu saya kerja di Astragraphia deh Mbak, antara dua itu, pilih salah satu

Mbak BNI  : Alamat Kantor ?
Saya : Kalau yang TSO Jl. Gaya Motor III, kalau yang AG di Gaya Motor Raya

Mbak BNI : Nomor ?
Saya : Lupa Mbak.. wong sudah 5 tahun ninggalin kantor itu, entah nomor 3 atau nomor 8

Mbak BNI : Lantai berapa ?
Saya : Ini yang di AI-TSO atau AG nih Mbak, kalau yang di AI-TSO gak pake lt, lt 1 aja, kalau yang di AG, Lt 7

Mbak BNI : Nama Gedung ?
Saya : Gedung d Amdi.

Mbak BNI : Amdi apa ?
Saya : Ya Amdi aja gitu Mbak, itu singkatan... jangan tanya singkatannya apa ya, saya sudah lupa beneran, bukan saya yang bangun gedung itu. (mulai bete dan emosi )

Mbak BNI : Ini tepatnya gedung Amdi A bu...( ngalah juga akhirnya )
Saya : Astaga Mbaaaak.. mesti tepat gitu ya.. cuma selisih satu huruf aja Mbak, saya lupa nyebutin A nya, di sana memang ada gedung AMDI A sampai AMDI D .  ya udah tutup aja Mbak ..tolong di proses segera deh Mbak

Mbak BNI : baik bu..di tunggu 2 menit saya sambungkan ke bagian pentutupan ya..
Saya : Hallo...hallo.. Mbak bentar, mau tanya dulu, nanti saya masih di  tanya-tanya verifikasi data kaya gini lagi gak ?

Mbak BNI : mohon di tunggu bu... tuuuutttttt ( nada tunggu). Dan tak lama kemudian...

Mbak BNI yang lain : Selamat siang dengan xxx ( lupa ), saya bagian penutupan kartu, mohon di tunggu ya bu untuk proses penutupannya..
Lega deh gak pake ditanya-tanya lagi ternyata...

Mbak BNI bag penutupan : terima kasih telah menunggu, kartu BNI Lotte mart ibu sudah kami tutup, prosesnya mohon ditunggu sampai 3 minggu ke depan, ada lagi yang bisa saya bantu ?

Saya : Gak ada Mbak...terima kasih ( lemesss.. sumpah gak pengen lagi nambah kartu BNI .)




Note : cerita verifikasi data yg ke 2 nanti aja di lanjut.. sdh ngantukkk










Friday, November 25, 2011

Transfer Kado Antar Rekening

Rame-rame soal Mas Ibas dan Mbak Alia yang nikah kemaren yang katanya Pak SBY menolak diberikan kado saya jadi sedikit nyinyir, ya iyalah Presiden gitu, mau dikasih kado apa, wong dia bisa beli koq, lagian kadonya juga bakal dicek KPK  ( apa iya berani KPK cek ?? smoga aja).
Nyinyir saya nambah, alaaah paling juga Pak SBY maunya kado ditransfer lewat rekening,

Ngomong-ngomong soal kirim hadiah perkawinan lewat transfer antar rekening, jujur aja saya baru sekaliiiii saja melakukannya, dan sebetulnya itu kepaksa banget saya lakukan, pengennya saya datang ke acara pernikahannya, ini teman baik saya, sudah jauh-jauh hari saya janji, tapi apa daya waktu hari H itu saya gak enak body, pembantu gak ada, dan anak-anak gak bisa ditinggal. Mau nitip bingung nitip ke siapa, gak enak juga. akhrinya setelah tanya beberapa teman, enaknya saya kirim kado apa ya, kapan saya belinya dsb bingung.  Biasanya saya kasih hadiah perkawinan ( kalau ggak bisa datang ) berupa barang keperluan rumah tangga dan pasti diselipi 1 buku.  Tapi untuk yang kali ini beneran bingung, kira-kira teman saya itu suka buka atau engga ya.

Akhirnya, dengan sedikit ragu, malu juga, saya tanya nomor rekeningnya, hahaha suer malu saya nanyanya waktu itu,gak enak ati. Teman saya juga malu dan bilang duh gak usah ngerepotin...dsb, tapi saya juga keukeuh, gak enak saya, sudah gak bisa datang, trus gak yakin juga kapan lagi bisa ke rumahnya,akhirnya nomor rekeningnya diberikan juga ke saya. langsung klikbca, beberapa menit langsung transfer antar rekening dan kirim bukti transferna via e-mail ke si penerima.



Duh, beneran buat saya ini hal yang tak biasa, meskipun katanya sekarang sudah hal yang lumrah. Biasanya saya transfer uang hadiah itu paling ketika ditodong keponakan yang ultah.

Dan kelihatannya bakal kejadian lagi nih kasih kado perkawinan berupa transfer antar rekening...




*dipojokan ada yg senyum-senyum*



Monday, November 14, 2011

Sepanjang Jalan Kenangan

Tepat di tanggal 11-11-11, setelah saya membesuk Evi, sepupu saya di RS Siolam Karawaci, kami beritga ( Saya, Ceu Ami & Ceu Oma) melanjutkan perjalanan ke tempat penuh kenangan, ex jalan Mangga 6, jalan bekas rumah kami dulu, karena kebetulan salah satu tetangga kami dulu menikahkan anaknya di tanggal itu ( ih banyak bener deh yg nikah di tanggal ini.)

Tujuan lain selain menghadiri pernikahan ( ternyata pestanya di Jl Lain yg tak jauh juga dari Jl Mangga 6 ). Kami langsung menuju tempat resepsi, dengan pertimbangan nanti setelah resepsi baru main sepuasnya di Mangga 6.
Ternyata di tempat resepsi, mempelai pria yang anak tetangga kami belum siap,  masih di dandani setelah jumatan, orang tua mempelai pria juga belum datang (kembali) setelah upacara pernikahan usai. Untunglah kemudian mempelai pria sudah selesai di dandani dan kamipun bisa berpelukan melepas kangen sekaligus mengucapkan selamat buat Imant, bocah kecil yang sering dibawa menginap di rumah kami dulu karena lucu dan menggemaskan, sementara dia sudah punya banyak adik, jadi agak kurang diperhatikan ortunya :(

Sepanjang jalan Semangka, Dukuh, mangga Raya, begitu banyak perubahan, ternyata sudah lama sekali saya tak lewat jalan ini, rasanya terakhir lewat jalan ini.
Masuk jalan Mangga 6, kami bertiga adu ingatan, ini rumah pak anu, ini rumah pak ini.. koq sepi.
Makin mendekati No. 89, saya makin melow.. eh di depan rumah no 91, ada dua ibu terlihat, spontan saya teriak, Bi Ayooooh... Bu Yadi.. mereka bengong dan kemudian baru sadar, berpelukanlah kita, selanjutnya Bu Yadi memanggil Bu Endang dan Tante Samsudin, untuk berkumpul, kebetulan juga ada tukang  rujak, ngobrol sambil makan rujak.

Ketika pamit pulang dan melewati rumah kenangan , rumah kami No 89, ada sesak di dada saya, betapa rumah itu meski telah berubah bentuknya dan berganti-ganti pemilik, masih menyisakan begitu banyak kenangan. Ceu Ami dan Ceu Omah menikah di rumah itu, Cinta pertama dan cinta terakhir sayapun pernah hadir di situ. Kami besar dan bertumbuh di situ.


Ibu saya membeli rumah itu dengan penuh perjuangan, setelah menjual rumah warisan bapak saya, kemudian berpindah-pindah jadi kontraktor, menempati rumah dinas kepala sekolah, sampai kemudian berjuang antri sejak dini hari untuk mendapatkan formulir pembelian rumah perumnas Tangerang sekitar tahun 80-an.
Saya juga pernah merasakan tiap bulan antri bayar cicilan rumah Rp.10.000 di konter BTN yang sekarang di Perum dinamakan perempatan kantor ( dulu kantor perumnas berada di situ).
Sampai akhirnya rumah itu lunas ketika kami anak-anak ibu saya remaja.

Sayang sekali, rumah itu kemudian di jual sekitar tahun 90-an, masa-masa kegelapan dalam hidup saya waktu itu. Saya sendiri tak tahu dan tak ikut sama sekali boyongan memindahkan barang-barang yang ada di rumah ini.

Sepanjang jalan mangga 6, satu persatu rumah yang terbuka dan dan terlihat ada tetangga lama, kami singgah, sekedar menyapa melepas rindu dan bertukar nomor telepon, sambil diantar Endang, tetangga sebelah yang sejak kecil juga selalu saya tuntun jika berangkat sekolah, dia kelas 1 SD dan saya kelas 6 SD. Sepetinya Endang tak mau cepat-cepat berpisah. Endang mengantarkan kami sampai ujung jalan Mangga 6.



Di ujung jalan ini..pernah ku tunggu kamu..kamu..dan kamu... 





Thursday, November 10, 2011

Akibat Lupa Bawa Buku PR

Kelas 6 SD, masa iya sih masih harus terus diingatkan ibunya tiap hari untuk nge-cek buku yang mesti dibawa ke sekolah ? Harusnya sudah tak perlu kan ya. Memag sudah sejak kelas 3 SD, setelah belajar,  Seno tak lagi saya cek satu persatu buku yang wajib dibawa untuk esok harinya. Saya cuma cek PR, cek pelajaran buat besok apakah sudah dipelajari semua dan kemudian tanda tangan agenda. urusan beres memberesi buku sudah saya serahkan tanggung jawabnya ke Seno.

Jadi tak salah kalau gurunya menghukum siswa yang tak membawa buku PR dengan berbagai jenis hukuman (  bukan hukuman fisik). Satu kali Seno lupa bawa buku PR Math, Seno diminta menyalin dan mengerjakan PRnya di buku lain di perpustakaan. Kali lain beda lagi jenis hukumannya. Seperti kemarin ini Seno lupa membawa buku PR PKN, padahal PR sudah di kerjakan. Permintaannya untuk pulang naik sepeda mengambil buku PR tak diijinkan Pak Guru, meski cuma memakan waktu tak sampai 10 menit.

Jadi sebagai hukuman atas kelalaiannya, Pak Guru meminta Seno menyalin kembali jawaban PR PKN dari No.1-10 sebanyak 10x di kertas HVS.
Pantas saja saya lihat sepulang saya kerja malam itu, Seno terllihat lebih tekun di meja belajarnya dengan kertas berserakan.


Saya tanya ada PR apa, jawabnya kena hukuman Pak Guru, harus mengulang nulis PR PKN kemarin karena tak bawa buku PR ke sekolah

Sampai jam 10 malam Seno nyerah, kecapean tangannya menulis, tugas hukuman baru diselesaikan 4 lembar ( 10 soal x 4). Mana tiap nomor jawaban terdiri dari a-d. Kasian juga saya melihatnya. Seno mulai merayu ibunya untuk bantu nulis 3 lembar saja (10x3), dengan catatan tulisan tangan saya harus dibuat mirip dengan tulisan Seno.

Kalau saja hari belum malam, belum tentu saya mau bantu Seno nulis, ih malesin bener, biar dia tau hukuman ini supaya dia tidak lalai lagi. Tapi berhubung sudah malam, akhirnya saya bantu juga buat nulis 3 lembar sambil Senopun melanjutkan 3 lembar sisanya.
Kerja sama yang cukup baik ( eh emak2 jangan tiru saya ya hihi ). Lumayan mirip kan tulisan saya dan tulisan Seno, coba tebak mana yang tulisan saya dan mana tulisan Seno.


Besoknya 10 lembar tugas hukuman dikumpulkan, dengan harap-harap cemas Seno, semoga Pak Guru tak memeriksa keaslian tulisan, syukurlah ternyata tulisan tak diperhatikan katanya, Pak Guru cuma ngomong, "Seno besok-besok mau lupa bawa PR lagi gak ?"
Seno menjawab dengan tak yakin, namanya juga manusia pak..pasti ada lupanya, tapi hukumannya diperingan dikit dong pak..