Wednesday, July 7, 2010

Tangerang Tempo Doeloe




Foto2 Tangerang Tempo Doeloe di bawah ini saya copy paste dari Troppen Museum dan http://kitlv.pictura-dp.nl/.
Seru juga membayangkan kondisi Tangerang Dulu dan Sangat jauh jauh jauh sekali bedanya.
Pintu Air Tangerang, bangunannya masih ada, tapi suasana sekelilingnya sudah jauh berbeda.

Kuil Cina di Mauk, waduh ini mungkin tepekong yang ada di tepi pantai dekat tanjung kait mauk.
Juga rumah tua di Mauk, itu belum pernah saya lihat. Mungkin juga rumah itu sudah tidak ada.

Kalau Rumah Tua Oei Djie San, saya sempat melihatnya dan sudah saya posting rumah terakhirnya sebelum di bongkar.

Kemudian yang hilang sama sekali dan saya belum pernah melihat juga padahal sering lewat situ jika sekolah dulu adalah gerbang dekat stasiun KA ( bagus banget ni gerbang andai masih ada ),

Tangerang yang dulu terkenal sebagai kota kerajinan pernah menjadi daerah eksportir topi bambu. Jutaan topi Tangerang diekspor ke Eropa setiap tahun pada masa jayanya. Waktu saya SMP / SMA saya masih sempat melihat beberapa toko penjual topi dan bahan topi bambu di daerah Grendeng.
Dengan bahan topi bambu yang kemudian di bongkar saya membuat anyaman tempat pinsil, pelapis kendi dan pelapis gelas untuk tugas mata pelajaran kesenian.
Sayang semua sekarang tinggal kenangan, saya sudah tidak menemukan lagi pengrajin maupun penjual topi bambu di Tangerang.



Alergi ternyata bisa mematikan, mau tau tentang Alergi ??

Baca kompas hari ini ada berita bahwa Alergi ternyata bisa mematikan. Itu sebabnya setiap kali pemberian obat,dokter selalu bertanya apakah ada riwayat alergi atau tidak . Begitu juga ketika akan dilakukan operasi, pasti di test alergi dulu.

Ada buku tentang alergi judulnya "100 Questions & Answers: Alergi pada Anak"  Penulis: Chairinniza K. Graha dan Penerbit: Elex Media (Gramedia Group)

Penderita penyakit alergi akhir-akhir ini makin meningkat. Alergi tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Bahkan jumlah penderita alergi pada anak-anak semakin hari semakin bertambah. Sebuah studi internasional menunjukan bahwa sekitar 25–30 persen anak-anak mengidap alergi. Satu dari tiga bayi yang lahir diperkirakan memiliki peningkatan memiliki resiko alergi

Terjadinya alergi terkadang sangat misterius; muncul dengan tiba-tiba, datang dan pergi dengan segera. Bahkan, dapat bertahan dalam waktu lama. Alergi yang pada awalnya dianggap sepele, lama kelamaan ternyata dapat juga membahayakan tubuh, memicu timbulnya berbagai komplikasi penyakit, bahkan dapat mengancam jiwa.

Menurut para ahli, alergi itu dapat menyerang semua organ dan sistem tubuh manusia, baik yang berada di dalam tubuh, seperti organ-organ pernapasan maupun bagian luar tubuh, seperti kulit. Alergi yang menyerang anak-anak, selain mengganggu kenyamanan mereka, ternyata dapat pula menyebabkan gangguan pada tubuh kembang mereka.

Bagaimanakah menangani alergi pada anak? Mengapa anak saya bisa alergi? Apa yang harus saya lakukan dalam mengatasi alergi anak saya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan para orangtua tentang masalah alergi pada anak-anak mereka.

Buku 100 Tanya-Jawab: Alergi pada Anak ini berisi banyak informasi tentang masalah yang sering dihadapi para orangtua yang memiliki anak penderita alergi. Bukan hanya dari segi medisnya, melainkan juga dari lingkungan hidup sehari-hari, mulai dari makanan, pola hidup, lingkungan, hingga kebersihan rumah yang sangat mempengaruhi timbulnya alergi pada tubuh anak. [*]
http://www.gatra.com/artikel.php?id=138436
------------

Note Icho : bukunya bagus, informatif sekali. Bahasanya juga tidak berbelit2 dan mudah di cerna.
Harga di Gramedia Rp. 44.800,-, jumlah halaman : 224.
Chairinniza K. Graha juga penulis buku  "Keberhasilan Anak di Tangan Orangtua" dan "Terapi untuk Anak Asma" dan 1 bukku lagi ( in progres ) tentang kolesterol.

Museum POLRI




Mau tau sejarah tentang berdirinya Museum Polisi, baca di sini aja.(www.museum.polri.go.id)
Ini termasuk museum yang paling dekat dengan rumah saya, cukup naik metro mini no 71 dilanjutkan jalan kaki sedikit dari CWS sampailah ke museum POLRI.
Lokasi tepatnya di Jl Trunojoyo, sebrang Mabes Polri.. arah bis2 yang menuju mampang itu lho..
Teringat cerita Teh Mia Teh (miapiyik.multiply.com), museum POLRI ini katanya yang ada patung polisi, saya pikir yang di depan lapangan ex peruri itu,. ternyata di sebrangnya lagi. Ada helikopter dan mobil PHH Polisi di depnnya dan patung polisi dengan kolam hias di bawahnya.
Saya tadinya sempat salah masuk, mau masuk ke Mabes dan untungnya bapak2 Polisi yang patroli segera memberi tahu lokasi tepatnya dengan sangat ramah.

Memasuki gedung museum polisi, saya pikir museum ini sepi sekali ( atau karena saya datang di hari kerja ?). Museumnya bersih dan sejuk dan nyaman sekali.
Di depan dekat penerima tamu, ada mobil patroli polisi kebayoran baru yang sempat Seno & Della naiki. kemudian ada kendaraan patroli polisi jadul mulai dari motor gede dengan penumpang di samping ( entah apa namanya), motor jadul, sepeda kumbang dan ada juga sepeda yang pernah digunakan patroli di lingkungan rumah pak Nasution dan berkat patroli itu diketahui ada gerombolan cakrabirawa yang akan menyerang.

Selain itu juga ada koleksi senjata laras pendek, koleksi topi2 dari pamen, pati dsb ( saya lupa tingkatannya). Bergeresr ke arah belakang ada ruang Half of Fame yang berisi koleksi foto mantan2 Kapolri, kalau tidak salah ada 18 mantan kapolri yang seakan berfoto bersama.

Ada Lie detector yang sempat saya jelaskan ke Seno gunanya apa, dan mungkin suatu saat Ibunya akan membeli Lie detector supaya Seno tidak bisa membohongi ibunya.

Di lantai satu ini juga ada monitor layar sentuh ( touchscreen) yang menampilkan foto2 polisi dan keterangannnya dari masa ke masa. Ternyata Della sangat suka dan betah berlama2 di depan monitor ini.

Naik ke lantai 2, sepertinya ini ruangan untuk penelitian polisi ( lab forensik dan sebagainya), karena di lantai ini juga ada koleksi sepihan Bom JW Marriot, ada KTP nya Imam Samudra dan lain2 sayangnya gak di foto karena batrenya kamrea habis dan salah bawa batre cadangan *kebiasaan deh*

Di pojok ruangan ada ruangan untuk anak2 bermain, ada meja dengan beberapa mainan edukatif, baju2 polisi kecil dan ada patung polisi yang kepalanya bolong bisa di ganti kepala kita.

Puas main di lantai 2, petugas museum mengajak kami dan rombongan lainnya ke auditorium untuk menyaksikan pemutaran film mengenai sejarah dan kiprah polisi.

Akhirnya... meski Seno dan Della belum cukup puas, saya harus segera keluar dari museum polisi krn masih ada yang harus ditemui di tempat lain.
Sebelum pulang, foto2 dulu di depan helikopter dan di mobil polisi deh


Tuesday, July 6, 2010

Selamat Jalan Pak AT Mahmud

Sesiang ini saya gak buka2 internet krn lagi sibuk jalan ke sana sini, jd ketinggalan berita wafatnya pak Abdullah Totong(AT) Mahmud, pengarang lagu anak-anak Indonesia. Saya baru tahu malam ini kalau beliau meninggal pada selasa siang tadi sekitar pukul 12.30 dan rencananya akan dimakamkan di TPU Menteng Pulo Jakarta Selatan Rabu pagi.

Mengenang Pak AT Mahmud, saya teringat waktu jaman saya SD dulu, ada acara TVRI yang judulnya "Ayo Menyanyi" dan "Lagu Pilihanku". acara ini dua kali sebulan, bergantian setiap seminggu sekali tayangnya.
Dan saya beruntung juga pernah sekali bertemu Pak AT Mahmud, Bu Fat dan Ibu Meinar pd waktu SD saya mengikuti acara Ayo Menyanyi.
Hebatnya acara ini konon mulai berjalan sejak tahun 1968 dan berlangsung terus selama 20 tahun sampai akhirnya  pada tahun 1988, atas suatu kebijaksanaan pimpinan TVRI, seluruh tim diminta mundur dari kedua acara tersebut. Untuk beberapa saat acara Ayo Menyanyi dengan nama lain dilanjutkan dengan pembawa acara seorang artis, yang berlangsung tidak lama. Kemudian, pembawa acara digantikan seorang artis lain. Itu pun hanya bertahan sebentar, kemudian untuk seterusnya menghilang sama sekali dari tayangan di layar TVRI.
(*dari bbrp sumber*)

Membandingkan lagu-lagu karya Pak AT Mahmud dengan lagu2 anak2 sekarang ini, sungguh sangat jauh berbeda. sekarang ini susah mencari pencipta lagu anak2 seperti Pak AT Mahmud.
Pada Era 90-an sempat muncul Papa T Bob yang membuatkan lagu untuk Joshua. Penyanyi2 cilik pun bermunculan., namun sayangnya lagu2 yang di nyanyikan jarang sekali yang tetap lekat lama dalam ingatan anak2.

Ketika Tasya menyanyikan lagu Anak Gembala karya Pak AT Mahmud, saya sangat senang sekali bisa kembali mendengarkan lagu masa kecil saya.  
Pun begitu ketika anak saya mulai SD dan ada beberapa lagu karya Pak AT Mahmud yang wajib di hapal mereka, dengan antusias saya ikut bernyanyi sampai Seno dan Della tanya apakah ibu dulu waktu kecil juga di ajari lagu ini ?
tentu saja nak.. lagu2 ini sudah ibu kenal sejak dulu.
Dan ibupun berharap, kelak cucu2 ibu juga masih mengenal lagu2 karya Pak AT Mahmud.
Ya.. anak2 saya sebetulnya sudah mengenal lagu2 Pak AT Mahmud sejak mereka masih batita.
Sering sekali saya menyanyikan lagu cicak-cicak di dinding , ambilkan bulan bu, pelangi2 buat mereka. Mungkin teman2 yang sudah punya anak juga menyanyikan lagu yang sama buat anak2nya.
Lagu2 Pak AT Mahmud dengan syair yang sederhana, irama yang sederhana dan berulang2 justru mudah di hafal oleh anak2.

Sekarang Pak AT Mahmud telah pergi. Saya masih berharap ada pencipta lagu baru yang akan menggantikan Pak AT Mahmud yang mampu menciptakan lagu indah namun tetap sederhana sehingga anak2 masa kini tidak lagi menyanyikan lagu2 dewasa dengan rasa kanak2 yang di paksakan.
 
Selamat Jalan Pak AT Mahmud, semoga pelangi-pelangi-mu yang tulus akan terus mewarnai suara-suara anak-anak Indonesia dan bintang kejora Kau selalu bersinar dihatiku !



Tambahan :
Saya paling suka lagu Ade Irma Suryani, lagu itu sampai sekarang selalu membuat saya merinding terharu saat menyanyikannya.
 


 
 

Tuesday, June 29, 2010

Rumah Oei Djie San




Sebetulnya foto ini pernah ada di album saya, tp waktu di edit2 koq malah hjadi page not found.
Berhubung lagi pengen bernostalgia dengan gedung2 dan bangunan tua yang ada di Tangerang.
Ini saya simpan kembali di album baru ini.
Saat ini rumah ini sudah tidak ada, dan sudah berganti dengan Mc. Donald.
Saya foto rumah ini beberapa waktu lalu sebelum pembongkaran berlangsung.
kualitas foto kurang bagus, pake SE K750i saja.



Tuesday, June 22, 2010

Album Foto Non Digital

Sejak era digital camera, hampir dipastikan saya baru satu kali mencetak hasil foto dr digital camera. Itu aja di cetak bukan untuk di simpan or koleksi di album, tapi pesanan adiknya Eyang Seno yang ada di Jogja.

Gara2 gak punya album foto cetak juga saya pernah kesulitan ketika Della ada PR mengumpulkan foto keluarga untuk pelajaran IPSnya. Untung masih tersisa foto keluarga ketika Della bayi.

Dan kemarin, saya juga mulai merasa bahwa foto2 hasil dari camera digital wajib di cetak, terutama foto yang bagus dan penuh kesan buat anak.
Karena kemarin Seno mulai bertanya2, mana foto2 ketika pergi ke Jogja, mana foto ketika peristiwa ini. dan itu.
Karena Seno ingin memperlihatkan foto2 itu ke temannya yang datang berkunjung.

Berhubung Foto2 itu saya simpan di CD dan di HD External , maka mesti di buka via komputer dan itu tidak membuat Seno senang.
Seno mau foto yang ada di album foto, sepeti foto2nya masa kecil dulu.

Saya juga inget, dulu.. Betapa album foto bagi saya adalah benda yang sangat menghibur.
Saya punya album foto masa SMP-SMA-Kuliah yang terpisah. dan benda itu pula yang menghibur saya di kala saya berada di perantauan. Benda itu juga yang bisa saya dekap di kala sedang merindukan seseorang yang ada di album foto itu.

Dan kadang kala jika kita berkunjung ke rumah teman atau kerabat, kita akan senang membolak balik album foto yang ada di rumah itu. Mungkin sekarang masanya Seno juga maunya seperti itu.

Jadi.. saya coba ikuti permintaan Seno deh, sekarang lagi milah2 foto2 yang layak cetak dari 62 folder foto..




*foto album milik sangprofersor*

Tanah Air Beta

Sebelumnya saya tidak sempat baca-baca sinopsis atau cerita mengenai isi film Tanah Air Beta ini. saya cuma tau sedikit bahwa film ini mengenai pengungsi dari Timor Timur ke Timor Barat.  Jadi ketika saya dan keluarga ( tumben lengkap, Bapa Seno ikut nonton juga)  saya punya bayangan film ini akan penuh adegan pengungsian atau ada sedikit keributan ( berantem2an) ala perang di Timor Leste waktu itu. Ternyata tidak ada adegan berdarah sama sekali.
Film ini lebih banyak bercerita tentang keluarga, persahabatan, persaudaraan malah juga pendidikan dan kebersihan.

Isi  cerita film ini kira-kira begini.

Tatiana ( Alexandra Guttardo ) punya anak 2 orang ( Mauro dan Merry). Pada saat referandum dulu terpaksa harus berpisah dengan Mauro karena saat akan mengungsi ke Timor Barat Mauro baru sembuh dari sakit tipus. Dia tidak mengajak serta Mauro  dengan pertimbangan takut capek ,  jadi untuk sementara Mauro di titipkan di saudaranya yang lain yang tetap berada di Timor Leste dengan harapan nanti apabila kondisinya membaik akan di ajak serta ke Timor Barat.

Di Pengungsian ini diceritakan Tatiana mengajar  di sekolah darurat di kamp tersebut. Merry juga bersekolah di tempat itu bersama Carlo seorang anak laki-laki yang sangat jail dan suka menggangu Merry, itu dikarenakan Carlo ingin sekali  mempunyai seorang adik dan merasakan kembali cinta kasih  keluarga

Tatiana yang Katolik juga berteman baik dengan sesama pengungsi yang lain yaitu Abu Bakar ( Muslim ) dan Keluarga Robby Tumewu dan Tessa Kaunang ( Cik Irene ).
Dengan berbagai agama yang ada di pengungsian mereka semua hidup bersaudara dengan erat. Ini yang di perlihatkan di film ini. Terlihat ketika Merry akan pergi tanpa pamit Ibunya untuk menyusul Mauro ke perbatasan, cik Irene bersedia menjual kaos yang harusnya Rp.  50.000 menjadi Rp. 5000 bahkan membekali Merry coklat dan 1 botol air kemasan besar. baik banget deh..

Dengan perjuangan panjang , ongkos yang kurang, bekal habis , cuaca panas Merry berjalan terus menuju perbatasan.
Di tengah perjalanan Carlo ( teman Merry yang nakal ) yang di minta Tatiana dan Abu Bakar mencari keberadaan Merry akhirnya berhasil menemukan Merry di tengah perjalanan. Di sini isi film bercerita tentang persahabatan Merry dan Carlo yang sebelumnya nakal dan sering menjahili Merry tapi sebetulnya sangat baik dan setia kawan terbukti dengan pengorbanannya mencari air minum dan mencari makan untuk Merry selama perjalanan menuju perbatasan.

Film berkhir dengan Happy Ending..  Merry berhasil menemukan Mauro.. dengan key kode lagu "Kasih Ibu Kepada Beta"

Atapi ada beberapa yang kurang pas buat saya di film ini

1. Sama seperti film Denias dan King, Ari Shasale tetap konsisten untuk mengeksplore
    keindahan alam Indonesia, meski di sana gersang dan banyak bukit2 tandus ( mirip di
    gunung kidul ) tapi kereen.. kebayang ..pantesan aja orang sana item2 ya ..piss

2. Isi ceritanya gak ada yang bikin saya tegang dan kurang heroik ( seperti film King ), paling
    tegangnya saat Carlo nyuri air minum di salah satu rumah penduduk saja. Padahal judulnya
    kan Tanah Air Beta..rada heroik bukan  ?

3. Pemain film inti kurang mengharukan. Ini terjadi pada ending film.
    Justru yang bukan pemain inti yang bisa membuat saya terharu. Bayangkan, keluarga2 yang
    terpaksa harus berpisah mereka melepas rindu hanya di jembatan dan kemudian berpisah
    lagi.. ini justru yang mebuat saya terharu. Tapi Tatiana yang akhirnya setelah beberapa kali
    keperbatasan tidak berhasil bertemu dengan anaknya Mauro, pd saat akhirnya berhasil
    bertemu koq adegannya biasa2 aja..
    Begitu juga Merry dan Mauro saat bertemu.. koq biasa aja, padahal Merry begitu rindunya
    kepada kakaknya sampai setiap hari selalu ngobrol dengan bantal yang di beri kaos / baju
    Mauro seolah2 bercakap-cakap dengan Mauro.

Selesai film ini, sambil jalan saya tanyai kesan2 Seno menonton film ini, apakah dia terinspirasi dengan film ini. Apakah film ini membuat Seno tambah sayang ke Della, gimana andai Seno dan Della juga berpisah seperti Mauro dan Merry.
Akan kah Seno merasa sedih ??

Ah.. ternyata jawaban Seno, gak tuh gak sedih.. biasa aja, Aku kalau terpaksa harus berpisah sama Ade ya udah pisah aja. ngapain di susul2 .. ( huh !! dasar anak ini ..lagi kumat gak sayang sama adeknya. )

Saya tanya juga Della.. gimana De, kalo Mas Seno pisah sama Ade, Ade mau nyusul cari mas Seno panas2an seperti Merry gitu ?
Dan Della malah bilang.. ibu aja yang nyusul.. Ade tunggu di rumah. halah !!

Berikutnya, saya tanya kesan si Bapa Seno yang tumben gak ngantuk di bioskop dan apa kesannya.
Jawaban si Bapa : Gimana mau ngantuk, Della nanya2 mulu..
Trus.. eh ternyata Bapa Seno sedih lho lihat film ini, dia ingat adik angkatnya Bapa Seno yang bernama Carlito ex Pengungsi Timor Leste yang entah ada di mana sekarang.
Saya juga jadi ingat masa2 Carlito pertama kali di temukan dan kemudian tinggal bersama alm. Eyang di Sukabumi...

Kesan buat saya sendiri, saya jadi tau..
Oh.. jadi begini toh kondisi ex pengungsi Timor Leste itu ? saya baru tau bahwa mereka hanya bisa bertemu di jembatan perbatasan.
Pengungsi dari Timor Barat gak bisa lagi ke Timor Timur. Dan orang Timor Timur ya keukeuh tidak mau ke Timor Barat karena jika demikian mereka mengakui NKRI.
.
Pokoknya saya  tetap salut buat Ale dan Nia yang konsisten membuat film2 seperti ini. Dan salut juga buat Alessandra Gottardo & yang rela berhitam2 untuk menjadi Tatiana dan Merry  Dan saya tetap puas nonton film Tanabe ini.
Yang jadi Mauro ganteng juga ya.. gak item..

Habis baca ini, jangan lupa cuci tangan pake sabun ya..... *meneruskanpesan sponsor di film Tanabe*