Sebetulnya saya dan keluarga tahun tidak berencana melakukan perjalanan mengisi liburan tahun baru ke Ujung genteng bersamaan, Rencananya si Babeh mau touring dengan teman-teman pencinta alam AGS ( Aranya Giri Sakta ) semasa SMA nya naek motor ke Ujung Genteng sendiri, tapi Seno minta ikut dan si babeh sudah approve, cuma saya yang pasti melarang mentah2.
Kebayang aja perjalanan Jakarta-Sukabumi-Ujung Genteng naek motor pasti lebih dari 6 jam.
Akhirnya tanggal 1 Pagi, diputuskan kita berangkat berempat saja. sekalian liburan, ibu kan juga udah cape kerja terus sebulan ini, malam tahun baru aja baru pulang dari kantor jam 10 malem. jadi sekalian refreshing juga lah. Jadilah sore ini kita berempat ke Sukabumi, menginap dulu di rumah adik bapa Seno di Sukabumi.
Paginya sekitar jam 10 kumpul dan berangkat dari SMA si babeh, rombongan 2 mobil dan 8 motor.

Perjalanan tidak melalui Jalan Cibadak -Pel. Ratu, tapi lewat jalan menuju Jampang Kulon-Surade.
Kondisi jalannya lebih sempit dan banyak lubang kecil di jalan alias tidak semulus jalan pelabuhan ratu, jadi pengendara harus hati-hati melalui jalan itu. Perjalanan yang sangat panjang berbelok belok melewati pegunungan kapur, lewat kebon teh yang berkelok-kelok yang kelokannya bikin pengen muntah, sempat beristirahat beberapa kali untuk makan siang, istirahat lagi untuk sholat di mesjid daerah Surade, istirahat lagi ada yang ganti oli, istirahat lagi ngopi dulu.


Akhirnya sekitar jam 4 sore, sampailah kita di penginapan yang sebelumnya sudah di booking.
Ada beberapa penginapan di sana, antara lain pondok hexa, villa pak ujang dan lainnya saya lupa. Rombongan Keluarga AGS menginap di villa pak Ujang.. view dari villa lumayan bagus, menghadap langsung ke laut dengan hamparan halaman yang cukup luas dan boleh pasang tenda sesuai rencana.



Seno yang sudah tidak sabar ingin segera menikmati pantai, langsung lari ke pantai.Della kali ini agak-agak takut ke pantai karena sebelumnya sudah di wanti-wanti bude Tuti, bahwa pantai ujung genteng itu banyak bulu babi yang gatal dan sakit, berhubung Della sudah bengalaman kena ubur-ubur,jadi Della tidak se nekat Seno jalan2 di pantainya.
Jam 5 sore kurang, sesuai dengan informasi tukang ojek di sekitar Sana, bahwa setiap sore jam 5 ada pelepasan tukik ( anak penyu ) ke laut. dan kita boleh menyaksikan dan ikut melepasnya.
Jadi, langsung kita berempat ( gak ngajak2 yg laen, padahal yang lain sudah di ajak tapi nyantai2 aja ya di tinggal aja deh ) berangkat naek ojek ke sana.
1 ojek tarifnya Rp. 35.000, jalannya offroad banget, yakin deh mobil yang nekat jalan menuju tempat penangkayaran penyu pasti melalui perjuangan berat, karena harus melewati jalan licin, jalan berpasir bahkan menyebrangi anak sungai yang langsung menuju laut, dan hutan2 bakau

Tiba di penangkaran di pantai pangumbahan tepat jam 5, ada 3 orang petugas yang membawa 3 bak berisi anak tukik yang siap di lepas, saya pikir kita bisa langsung ikut lihat, ternyata harus isi buku tamu dulu dan membayar 1 orang rp. 5000. Sebelnya tidak ada tiket resmi untuk itu,. pdhal saya paling anti bayar2 sesuatu tanpa tiket resmi.


Akhirnya,tukik-tukik di lepaskan, lucu sekali lihat tukik2 kena ombak dan jalan menuju pantai.


Malam Hari, setelah makan malam, sesuai janji dengan tukang ojek yang tadi siang, yang akan mebawa kami kembali ke pantai pangumbahan untuk melihat penyu bertelur. Jam9-an kita siap2 berangkat.
Si Babeh cerita dulu masa SMAnya, untuk melihat penyu bertelur tidak seramai sekarang dan mesti antri per rombongan. Dulu masiih boleh duduk di punggung penyu dan dibawa jalan ke pantai oleh penyu, membayangkan ceritanya si babeh seru sekali dan membuat Seno dan Della juga sangat antusias, meskipun hari sudah sangat larut dan dingin.
Saya pikir tempat bertelur penyu sama dengan tempat tukik di lepas tadi sore, ternyata lebih jauh lagi dan kita harus berjalan perlahan gak boleh berisik dan gak boleh ada sinar terang karena katanya akan membuat penyu males bertelur.
Malam ini hanya ada 1 penyu yang bertelur dan di tonton puluhan orang, saya cari2 mana telurnya gak muncul-muncul, penyunya malu juga bertelur kalau di tonton orang.
Sampai hujan turun penyu belum juga bertelur, akhirnya kita tinggalkan penyu setelah sebelumnya sempat tanya ke penjaganya boleh foto atau tidak..
ternyata boleh..
ini foto penyunya, beda dengan foto penyu yang di seaworld..


Jam 12-an tiba kembali di penginapan dengan kaki pegal, baju basah kena hujan sepanjang jalan di pantai menuju pulang.
Saran saya yang mau ke sana , jagan lupa bawa mantel atau jas hujan, kalo kehujanan di pantai malam2. dingiiinnn...
Besoknya, hari minggu, sebetulnya masih ada tujuan lain lagi yaitu ke air terjun ci kaso, tapi berhubung katanya perjalanannya 2 jam pp naik perahu, dan agak2 ngeri buat anak2 kecil, akhirnya di putuskan gak jadi ke air terjun ci kaso, tapi kita tetep mampir ke tanah lot nya Ujung genteng. Sebelum pulang foto2 duluuu..

Untuk menuju tanah lot nya Ujung Genteng, masuk dari Villa Amanda ratu, wiih sampe sana bener2 bagus View nya..
cuma ngeri denger cerita teman2 si Babeh yang katanya banyak buaya nya di bawah sana. Buaya Muara gitu lho lebih mengerikan dari buaya darat buat saya mah.

